Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada pukul 09.09 WIB dibuka turun 0,71% di Rp 4.190 per saham pada Senin (24/8/2026).
Penurunan harga saham bank terjadi di bank besar lain. Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun 1,86% di Rp 3.170 per saham. Saham Bank Negara Indonesia (BBNI) turun 1,07% di Rp 3.690 dan saham Bank Central Asia (BBCA) turun 1,55% di Rp 6.350 per saham.
Penurunan tersebut membuat indeks sektor keuangan ikut menurun di awal perdagangan yang turun. Meski begitu IHSG di awal pekan dibuka menguat 0,15% di level 6.535,192.
Baca Juga: Kredit Perbankan Tumbuh Dobel Digit, Ciputra Life: Berdampak Positif Terhadap Premi
Sebetulnya, secara fundamental, Analis Maybank Sekuritas Jeffrosenberg Chenlim dalam riset 9 Agustus 2026 menyebut, kinerja perbankan masih menunjukkan pertumbuhan. Tapi dia mengakui jika terjadi tekanan pendanaan. “Kinerja BBCA, BMRI dan BBNI sudah sesuai dengan ekspektasi kami,” kata dia dalam riset.
Menurut Jeffronsenberg, pada semester I-2026 laba BMRI tumbuh 24%, BBNI naik 7% dan BBCA naik 2%. BMRI mencatat pertumbuhan laba terkuat di antara bank konvensional. Kinerja tersebut didukung oleh peningkatan pendapatan berbasis komisi (fee income), penurunan beban operasional, serta penurunan biaya pencadangan sebesar 12,5%.
Pertumbuhan kredit perbankan masih kuat dan terutama didorong oleh segmen kredit wholesale. Kredit BBNI tumbuh 24% secara year on year (yoy) dan BMRI meningkat 19%. Pertumbuhan tersebut antara lain didukung oleh penyaluran kredit dalam jumlah besar kepada Agrinas. Sementara itu, kredit BBCA tumbuh 8%.
Namun, Jeffrosenberg menyebut, kondisi likuiditas yang semakin ketat berpotensi memperlambat ekspansi kredit. Hal tersebut tercermin dari rasio loan to deposit ratio (LDR) di mana BMRI 95,1%, dan BBNI 87,7%. Sebagai perbandingan, LDR BBCA berada pada level yang lebih nyaman, yakni 78,7%.
Baca Juga: Laba BTN Melesat 39,79% Capai Rp2,51 Triliun hingga Juli 2026
Komposisi pendanaan dan margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) menjadi perhatian utama. Rasio current account saving account (CASA) BMRI dan BBNI mengalami penurunan tajam. Kedua bank tersebut semakin mengandalkan deposito berjangka yang memiliki biaya dana lebih tinggi. Kondisi tersebut mendorong keduanya memangkas panduan NIM untuk tahu
Jeffrosenberg memberi rekomendasi buy saham BBCA, BBNI dan BMRI. Saham BBCA ditargetkan di Rp 8.800, BBNI Rp 4.800, BMRI, Rp 5.700.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














