Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan kembali terjadi pada saham bank berkapitalisasi jumbo atau big banks di perdagangan hari ini (27/3/2026). Pengumuman laba Februari 2026 oleh sejumlah big banks belum mampu menahan koreksi harga.
Penurunan harga kompak terjadi kepada empat saham big banks. Penurunan terbesar terjadi pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang disusul ketat oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Sedangkan, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga mengalami penurunan harga dengan persentase yang lebih kecil.
Baca Juga: Pertumbuhan Kredit Perbankan Kembali Melambat ke 8,9% per Februari 2026
BBCA ditutup untuk pekan ini pada harga Rp 6.700 per saham, atau turun 2,55% dibandingkan harga kemarin. Ini merupakan harga terendah BBCA sejak lima tahun terakhir.
BBNI berada pada harga Rp 3.900 atau turun 2,50% dibandingkan kemarin. Selama sepekan ini, BBNI terus mengalami pelemahan.
Sedangkan, BBRI ditutup pada harga Rp 3.420 per saham. Harga BBRI hari ini konsisten ada di zona merah.
Sementara itu, BMRI turun paling tipis dengan level harga di Rp 4.760. BMRI turun 1,65% dibandingkan penutupan kemarin.
Dalam beberapa waktu terakhir, big banks selain BBNI telah mengumumkan perolehan labanya masing-masing untuk Februari 2026. BBRI dan BMRI meraih pertumbuhan laba yang tinggi, yakni masing-masing 17% (yoy) dan 16,7% (yoy). Sementara laba BBCA di Februari 2026 hanya tumbuh 2,81% (yoy).
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi menilai, pengumuman laba dapat menjadi buffer penahan koreksi harga. Akan tetapi, buffer ini hanya akan bertahan sebentar saja.
Baca Juga: DPK Perbankan Tumbuh 9,2% per Februari 2026
"Pergerakan saham masih akan lebih didominasi oleh sentimen makro, seperti arah suku bunga The Fed, nilai tukar Rupiah, dan arus dana asing," kata Wafi saat dihubungi, Jumat (27/3/2026).
Kendati begitu, Wafi menyebut perolehan laba big banks yang masih tinggi merupakan sinyal bahwa fundamental perusahaan masih kuat.
Menurutnya, laba BMRI dan BBRI meningkat pesat karena ekspansi penyaluran kredit yang agresif dan perbaikan risiko aset di awal tahun ini. Sedangkan, BBCA lebih menunjukkan strategi ekspansi yang prudent.
"BBRI dan BMRI cocok untuk investor yang mengincar growth," ucapnya.
BBCA sendiri, menurut Wafi, masih menjadi saham blue chip yang menarik untuk dilirik oleh investor jangka panjang. "BBCA tetap jadi aset safe haven paling stabil di sektor perbankan, meski persentase pertumbuhannya lebih lambat," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













