Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Momentum pemulihan industri perbankan diprediksi bakal terjadi pada 2026. Seiring dengan itu, RHB Sekuritas mempertahankan rating overweight untuk sektor ini.
Setelah hasil yang kurang memuaskan pada 2025, Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya dan David Chong CFA memprediksi laba perbankan bakal tumbuh positif pada akhir tahun 2026.
Itu terjadi seiring dengan penurunan biaya dana dan ekspansi margin bunga bersih (net interest margin/NIM) secara bertahap.
Baca Juga: Bank Jatim Buka Seleksi Calon Komisaris dan Direktur Manajemen Risiko, Cek Jadwalnya
“Untuk bank-bank dalam cakupan riset, laba tahun penuh 2026 diperkirakan tumbuh 12% secara tahunan, berbalik dari penurunan estimasi 3,2% pada tahun penuh 2025,” sebut Andrey dan David dalam risetnya, Senin (12/1/2026).
Untuk diketahui, bank yang termasuk dalam cakupan riset adalah Bank BJB (BJBR), Bank Central Asia (BBCA), CIMB Niaga (BNGA), Bank Mandiri (BMRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), Bank Neo Commerce (BBYB), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Syariah Indonesia (BRIS), serta Bank Tabungan Negara (BBTN).
Mereka menjelaskan, penurunan biaya dana bakal terjadi seiring pemangkasan agresif suku bunga Bank Indonesia (BI) pada 2025. Dus, NIM bakal berekspansi secara bertahap.
Di samping itu, Andrey dan David melihat kualitas aset perbankan juga telah melewati titik rendah. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang cenderung membaik sejak 2024 hingga 2025 disebut menjadi katalis positif bagi kinerja perbankan.
Secara khusus, mereka menyoroti kualitas kredit investasi yang lebih baik. Yang mana, hasil itu didorong oleh pengetatan underwriting dan belanja modal korporasi yang lebih sehat. Pada gilirannya, itu mengimbangi pelemahan pada kredit konsumsi.
Baca Juga: OJK Terbitkan PADK 38/2025, Atur Penilaian Tingkat Kesehatan Fintech Lending
Secara kinerja pun, Andrey dan David juga melihat pemulihan bertahap telah terjadi dari hasil bulan November lalu.
“Pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) dan laba didorong oleh bank-bank turnaround dan saham dengan pertumbuhan selektif, terutama BBTN dengan dukungan berkelanjutan dari BRIS dan BBCA,” kata mereka.
Andrey dan David menilai tekanan pada big banks juga mulai mereda dengan neraca yang makin stabil, pertumbuhan kredit yang menunjukkan pemulihan awal secara bulanan, dan dana pihak ketiga yang tetap solid.
Secara valuasi, saham-saham turnaround dan bank menengah dinilai menawarkan potensi re-rating terbesar. Namun, bank besar memberikan nilai dan imbal hasil yang lebih defensif, dengan BBCA tetap menjadi jangkar kualitas.
Dengan mayoritas saham bank diperdagangkan di bawah rata-rata historis nilai bukunya, sektor ini berada pada posisi yang baik untuk mean reversion, seiring momentum laba yang menguat pada 2026.
Baca Juga: BBNI Melonjak Paling Tajam Kemarin (13/1): Kenapa Saham Big Banks Kompak Menghijau?
Namun begitu, bukan berarti sektor ini bebas tantangan. Andrey dan David menilai permintaan kredit yang masih tertahan membatasi perbaikan NIM, meskipun biaya dana memang telah menurun.
“Beberapa bank mulai mematok harga kredit lebih agresif, terutama pada segmen korporasi yang berisiko rendah, untuk mempertahankan atau memperluas pangsa pasar,” jelas mereka.
RHB memberi rating overweight untuk sektor perbankan, saham pilihannya adalah BBCA, BBNI, BBRI, dan BBTN, dengan rekomendasi beli (buy) dan target harga masing-masing Rp 10.260, Rp 4.990, Rp 4.300, dan Rp 1.430,
Selanjutnya: Diskon Starbucks Terbatas: Promo 2 Minuman Grande Hemat 55% Pakai BCA Hari Ini Saja
Menarik Dibaca: Diskon Starbucks Terbatas: Promo 2 Minuman Grande Hemat 55% Pakai BCA Hari Ini Saja
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
