Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menyebut industri perbankan tengah menghadapi risiko likuiditas. Kondisi ini berpotensi menekan pertumbuhan laba perbankan seiring dengan meningkatnya biaya dana (cost of fund), termasuk di BTN.
Nixon F. Napitupulu, Direktur Utama BTN, memperkirakan laba BTN pada paruh kedua masih akan tumbuh positif, tetapi pertumbuhannya melambat dibandingkan dengan paruh pertama yang melonjak 40,8% secara tahunan. Penyebabnya adalah kenaikan biaya dana. “Saya pastikan pertumbuhan laba pada semester II akan turun,” ucap Nixon, Jumat (23/10/2026).
Nixon menjelaskan, kenaikan biaya dana terutama disebabkan oleh pemberian special rate kepada institusi besar. Hal ini tak lepas dari ketentuan penempatan dana lembaga pelat merah di perbankan yang menggunakan model bidding atau lelang. Ia menyebut bidding bunga simpanan saat ini banyak yang di atas 8%.
Peningkatan biaya dana tersebut berimbas pada penurunan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) dan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII). Pada paruh pertama 2026, NII bank ini tercatat turun 8% secara tahunan menjadi Rp 8,59 triliun.
Baca Juga: BTN Perkuat Transformasi dan Perluas Sumber Pertumbuhan
Kondisi likuiditas yang ketat juga berdampak pada pendapatan nonbunga BTN. Nixon mengatakan, pendapatan berbasis komisi atau fee-based income terbesar berasal dari transaksi treasury untuk perdagangan surat berharga. Pada semester I 2026, pendapatan nonbunga bank ini mengalami kontraksi 3,3% secara tahunan menjadi Rp 1,83 triliun.
“Ketika pasar memburuk, nilai surat berharga menjadi sangat fluktuatif sehingga menekan kinerja pendapatan treasury. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh keterbatasan likuiditas. Selain itu, kenaikan suku bunga juga meningkatkan biaya pendanaan dan membuat aktivitas perdagangan semakin berat,” jelas Nixon.
Untuk tetap tumbuh di tengah kondisi likuiditas yang ketat, BTN terus berupaya memperbaiki kualitas aset. Nixon menyampaikan bahwa dalam dua hingga tiga tahun terakhir, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) terus diturunkan.
Hingga akhir tahun, BTN semula menargetkan NPL turun ke level 2,9%. Namun, target tersebut sudah tercapai pada September 2026. Dengan realisasi itu, ia memperkirakan NPL hingga akhir tahun bisa menyusut ke kisaran 2,7%–2,8%.
Penurunan tersebut akan membuat beban pencadangan ikut menyusut sehingga menjadi salah satu penopang laba perseroan tahun ini. Dampak penurunan NPL terbukti mendorong pertumbuhan laba BTN pada paruh pertama 2026, dengan beban provisi menyusut 61,3% menjadi Rp 1,41 triliun.
Lebih lanjut, Nixon menyampaikan bahwa BTN tengah mendorong efisiensi proses bisnis agar biaya dana (cost of fund atau CoF) yang tinggi tidak membebani neraca keuangan perusahaan ke depan. “Saya sudah sampaikan ke tim, jika biaya dana masih tetap tinggi, pertumbuhan kredit akan kita sesuaikan. Mendorong ekspansi dengan biaya dana yang terlalu mahal, itu bank kerja sukarela. Tapi khusus untuk program pemerintah akan tetap jalan karena pemerintah menyiapkan likuiditasnya,” paparnya.
Hingga akhir 2026, BTN tetap menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 9%–11%. Pasalnya, bank sudah menggenjot pertumbuhan pada awal tahun, dengan posisi hingga Juni tumbuh 11,2%.
Baca Juga: Bank BTN (BBTN) Kaji Opsi Buyback Saham
Nixon menyambut baik langkah Bank Indonesia (BI) menurunkan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap mulai November hingga maksimal 2%. GWM untuk bank konvensional turun dari 9% menjadi 8%, lalu kembali turun menjadi 7% mulai 1 Desember 2026. Sementara itu, GWM untuk bank syariah turun dari 7,5% menjadi 6,5%, lalu kembali turun menjadi 5,5%.
BTN berharap kebijakan tersebut dapat membantu memperbaiki likuiditas perbankan. Menurut proyeksi Nixon, penurunan GWM sebesar 1% berpotensi memberikan tambahan likuiditas maksimal Rp 4 triliun. “Jika BTN dapat memanfaatkan penurunan 2%, tambahan likuiditas diperkirakan mencapai Rp 6 triliun hingga Rp 8 triliun. Namun, perhitungan yang lebih akurat masih dilakukan oleh tim treasury,” imbuh Nixon.
Selain itu, BTN juga mengamankan likuiditas melalui penerbitan obligasi. Nixon menjelaskan bahwa BTN memilih obligasi karena memiliki tenor lebih panjang dan memungkinkan perusahaan mengunci suku bunga di tengah volatilitas pasar, ketika suku bunga dana dapat berubah-ubah setiap bulan.
BTN baru-baru ini menerbitkan social bond dengan target awal Rp 1 triliun dan berhasil menghimpun Rp 2 triliun dengan kupon 7,25%. Menurut Nixon, mengunci bunga selama tiga tahun di level 7,25% lebih menguntungkan dibandingkan mengikuti pergerakan suku bunga pasar yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














