Reporter: Dea Chadiza Syafina | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), industri perbankan dan juga industri keuangan non bank (IKNB) terus memperluas program Jaring (Jangkau, Sinergi dan Guideline) untuk meningkatkan pembiayaan di sektor kelautan dan perikanan.
Jika pada awal peluncurannya terdapat de;apam bank yang ikut serta, pada November kemarin terjadi penambahan bank yang ikut serta menjadi 13 bank. Salah satu bank peserta program JARING adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Direktur Kelembagaan dan UMKM BRI Muhammad Irfan menyebutkan, sampai dengan November 2015 perseroan telah menyalurkan kredit sektor kelautan dan perikanan mencapai Rp 3,7 triliun.
Angka ini melebihi target penyaluran BRI sepanjang 2015 yang sebesar Rp 2,5 triliun. Bank yang nangkring di papan bursa dengan kode emiten BBRI ini menargetkan kredit sektor kelautan dan perikanan pada 2016 mendatang minimal sama dengan penyaluran kredit sampai dengan akhir tahun 2015.
Untuk menggenjot penyaluran kredit sektor kelautan dan perikanan, BRI memiliki strategi berupa peningkatan penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) di sektor ini. Kedua, perseroan akan meningkatkan layanan terintegrasi melalui layanan cashless.
"Nantinya BRI mendorong transaksi antara produsen dengan pedagang menjadi tidak tunai," jelas Ifran kepada KONTAN, Senin (14/12).
Strategi lain yang akan dilakukan oleh bank yang fasih di sektor mikro ini adalah dengan melakukan optimalisasi penggunaan kartu jaring nelayan yang akan dikembangkan diseluruh TPI. Perseroan juga akan mengembangkan bisnis cluster atau linkage dari hulu ke hilir, untuk mendorong peningkatan pertumbuhan kredit sektor kelautan dan perikanan.
Lebih lanjut Irfan merinci, rasio kredit bermasalah atawa non performing loan (NPL) bank di sektor ini adalah sebesar 2,4%. Perseroan menargetkan NPL di sektor kelautan dan perikanan pada 2016 mendatang di bawah 3%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













