kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.597.000   -16.000   -0,61%
  • USD/IDR 17.970   46,00   0,26%
  • IDX 6.181   -60,46   -0,97%
  • KOMPAS100 805   -7,45   -0,92%
  • LQ45 616   -5,31   -0,86%
  • ISSI 214   -1,69   -0,78%
  • IDX30 341   -3,09   -0,90%
  • IDXHIDIV20 429   -0,76   -0,18%
  • IDX80 92   -0,86   -0,93%
  • IDXV30 116   -0,18   -0,15%
  • IDXQ30 110   -0,52   -0,47%

Sun Life: 58% Masyarakat Indonesia Khawatir Konflik Keluarga Ganggu Warisan


Senin, 28 September 2026 / 10:59 WIB
Sun Life: 58% Masyarakat Indonesia Khawatir Konflik Keluarga Ganggu Warisan
ILUSTRASI. Presiden Direktur Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo (Dok/Sun Life Indonesia)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Yudho Winarto

Perencanaan Warisan Meningkat

Kesadaran masyarakat Asia terhadap perencanaan warisan juga meningkat. Jumlah responden yang telah memiliki rencana warisan lengkap secara tertulis dan mengomunikasikannya kepada keluarga meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 10% pada 2025 menjadi 22% pada 2026.

Pada periode yang sama, proporsi responden yang belum memiliki rencana warisan turun dari 31% menjadi 15%.

Di Indonesia, hanya 9% responden yang belum memiliki rencana warisan, turun dari 20% pada 2025.

Sementara itu, sebanyak 30% telah memiliki rencana warisan secara tertulis meski belum mengomunikasikannya kepada ahli waris.

Meski perencanaan meningkat, tingkat kesiapan belum tumbuh dengan kecepatan yang sama. Pada 2025, sebanyak 19% responden merasa benar-benar siap mewariskan peninggalannya. Angka tersebut hanya meningkat menjadi 20% pada 2026.

Pendampingan profesional juga semakin banyak digunakan. Sebanyak 46% responden telah mencari nasihat profesional untuk merencanakan warisan, meningkat dari 37% pada 2025.

Dari kelompok tersebut, 79% merasa siap secara finansial untuk mewariskan kekayaan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 44% responden yang belum mencari nasihat profesional tetapi berencana melakukannya.

Penasihat keuangan juga semakin terlibat dalam komunikasi mengenai warisan. Sekitar empat dari 10 responden mengatakan komunikasi dengan generasi berikutnya telah dilakukan, setidaknya sebagian, melalui penasihat keuangan. Angka tersebut meningkat dari 15% pada 2025.

Albertus mengatakan, kesiapan generasi penerus perlu dibangun sejak awal melalui komunikasi dan keterlibatan dalam pengelolaan kekayaan.

“Mewariskan kekayaan mungkin merupakan keputusan yang relatif mudah, tetapi mempersiapkan seseorang untuk mengelolanya membutuhkan proses yang jauh lebih panjang,” ujarnya.

Menurut dia, keterlibatan generasi berikutnya sejak awal dapat menjadi kesempatan bagi keluarga untuk membangun kemampuan mengambil keputusan finansial, menyamakan ekspektasi, dan mengurangi ketidakpastian sebelum tanggung jawab pengelolaan kekayaan beralih.

Baca Juga: Rumor Akuisisi BCA Menyebar, Bank Swasta Besar Penting Jaga Persaingan Perbankan

Kekhawatiran Kelompok Kaya Berbeda

Pola kekhawatiran juga berbeda pada kelompok masyarakat dengan kekayaan tinggi. Hanya 20% responden kelompok tersebut yang menilai perselisihan keluarga sebagai ancaman besar terhadap keberlanjutan kekayaan, dibandingkan 34% pada masyarakat secara umum.

Kelompok masyarakat dengan kekayaan tinggi justru lebih banyak menyoroti risiko keputusan investasi, kompleksitas perpajakan dan hukum, serta kepercayaan terhadap penasihat atau institusi pengelola kekayaan.

Sebanyak 37% responden dengan kekayaan tinggi menilai keputusan investasi yang kurang tepat sebagai risiko, dibandingkan 24% pada masyarakat secara umum.

Sementara itu, 29% mengkhawatirkan kerumitan perpajakan atau hukum, dibandingkan 18% pada masyarakat secara umum.

Di antara responden dengan kekayaan tinggi yang khawatir kekayaannya tidak bertahan hingga generasi berikutnya, sebanyak 40% menyoroti kepercayaan terhadap penasihat atau institusi pengelola kekayaan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan 25% pada masyarakat secara umum.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perencanaan warisan semakin berkembang, tetapi tantangan bukan hanya terletak pada besarnya aset yang akan diwariskan.

Kesiapan generasi penerus, komunikasi dalam keluarga, serta kemampuan mengelola kekayaan menjadi bagian penting agar aset dapat bertahan lintas generasi.

Baca Juga: BI Rate Ditahan di Level 5,75%, ACC Siapkan Penyesuaian Bunga Pembiayaan Terukur

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×