kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45736,73   34,31   4.88%
  • EMAS931.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Tiga bank calon BUKU 3 menyusun strategi


Selasa, 18 Februari 2020 / 07:30 WIB
Tiga bank calon BUKU 3 menyusun strategi

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun ini, sejumlah bank cilik menargetkan bisa naik kelas menjadi bank umum keiatan usaha (BUKU) 3 dengan modal inti minimum Rp 5 triliun. Persaingan industri perbankan di kelas menengah ini diprediksi bakal makin ketat.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga November 2019 ada 26 BUKU 3. Jumlah tersebut berkurang dibandingkan November 2018 sebanyak 28 bank.

Penurunan disebabkan karena dua Buku 3 naik kelas menjadi BUKU 4 yaitu PT Bank Panin Indonesia Tbk (PNBN), dan PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN).

Meski berkurang, persaingan di BUKU 3 masih bertahan jadi yang paling ketat. Ini tercermin dari rasio likuiditas yang tinggi. Loan to deposit ratio (LDR) BUKU 3 tercatat mencapai 102,06% pada November 2019.

Baca Juga: Bank BNI (BBNI) buka opsi mengakuisisi bank kecil tahun 2020 ini

KONTAN mencatat setidaknya ada tiga bank yang berpeluang menjadi BUKU 3 tahun baik secara organik maupun aksi penambahan modal. Mereka adalah PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA), dan PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO).

Akhir tahun lalu, BNI Syariah tercatat memiliki modal inti Rp 4,56 triliun. Artinya perseroan butuh sekitar Rp 450 miliar untuk bisa naik menjadi BUKU 3.

“Peningkatan modal inti akan dikontribusikan utamanya dari laba tahun berjalan dan tambahan penyertaan modal melalui inbreng aset dari pemegang saham. Target menjadi BUKU 3 ada kuartal II-2020, selambat-lambatnya poda kuartal III-2020,” kata DIrektur Keuangan dan Operasional BNI Syariah Wahyu Avianto kepada KONTAN, Senin (17/2).

Tahun lalu, BNI Syariah tercatat meraih laba bersih Rp 603,15 miliar dengan pertumbuhan 44,96% (yoy). Adapun pembiayaan tersalurkan Rp 32,58 triliun dengan pertumbuhan 15,13%. Sedangkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) senilai Rp 43,77 triliun dengan pertumbuhan 23,31% (yoy).

Wahyu menambahkan pertumbuhan dana perseroan yang masih mumpuni turut membuat ketersediaan likuiditas perseroan juga sejatinya masih kokoh. Rasio financing to deposit (FDR) pun tercatat masih longgar sebesar 74,31%.

“Likuiditas kami masih aman untuk beberapa waktu ke depan. Kami juga akan lebih fokus untuk mengumpulkan dana murah dengan dukungan transaksi digital. Sementara pembiayaan akan kami fokuskan ke segmen konsumer, dan menengah-kecil,” sambung Wahyu.




TERBARU

Close [X]
×