Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lesunya aktivitas perdagangan saham mulai memukul bisnis perusahaan sekuritas.
Tidak hanya pendapatan dari komisi transaksi yang tergerus akibat anjloknya nilai transaksi harian, bisnis penjaminan emisi (underwriting) juga ikut tertekan karena pasar yang sepi membuat aktivitas IPO melambat.
Memasuki semester II 2026, industri sekuritas menghadapi tantangan berat seiring belum pulihnya pasar saham domestik.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang disertai derasnya arus keluar dana asing membuat aktivitas transaksi terus menyusut dan mengancam sumber pendapatan utama perusahaan sekuritas.
Baca Juga: IHSG Melemah, Transaksi Saham Harian di Surya Fajar Sekuritas Turun hingga 40%
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) pada periode 6–10 Juli 2026 hanya mencapai Rp 10,26 triliun. Angka ini merosot sekitar 59% dibandingkan RNTH pada 8–12 Juni 2026 yang masih sebesar Rp 25,05 triliun.
Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, mengatakan penurunan transaksi mulai terasa sejak bulan lalu.
Menurutnya, pelemahan IHSG yang telah terkoreksi 31,49% sejak awal tahun mendorong arus keluar dana asing dalam jumlah besar, sehingga semakin menekan likuiditas pasar.
"Penurunan transaksi ini tentu berdampak terhadap pendapatan fee transaksi perusahaan sekuritas," ujar Wawan, akhir pekan lalu.
Ia memperkirakan target BEI untuk mencapai RNTH sebesar Rp 14,5 triliun hingga akhir 2026 akan sulit terealisasi apabila tren pelemahan transaksi belum berbalik dalam waktu dekat.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi Tajam, Cek Rekomendasi Saham dari BNI Sekuritas (4/6)
Tekanan juga dirasakan pada bisnis penjaminan emisi. Wawan menilai pendapatan dari underwriting cenderung menurun dibandingkan tahun lalu karena persyaratan initial public offering (IPO) semakin ketat, sementara kondisi pasar belum cukup kondusif untuk menyerap penawaran saham perdana.
Meski demikian, Wawan menilai perusahaan sekuritas masih memiliki ruang untuk menjaga kinerja melalui diversifikasi bisnis.
Strategi tersebut dinilai lebih mudah dilakukan oleh sekuritas yang memiliki induk usaha perbankan atau anak usaha di bidang manajer investasi sehingga tidak hanya bergantung pada komisi transaksi saham.
Direktur Utama PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Chang-kun Shin juga mengakui perlambatan transaksi investor asing masih menjadi tantangan utama.
Menurut dia, aktivitas investor asing mulai melambat sejak munculnya isu evaluasi MSCI terhadap transparansi pasar modal Indonesia dan keterbukaan informasi.
Baca Juga: IHSG Masih Rawan Koreksi, Simak Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas (12/5)
Akibat kondisi tersebut, realisasi transaksi investor asing di Kiwoom Sekuritas baru mencapai sekitar 81% dari target yang telah ditetapkan perusahaan.
Untuk menjaga pertumbuhan pendapatan di tengah sepinya transaksi, Kiwoom Sekuritas akan memperbesar bisnis pembiayaan margin melalui pembukaan rekening margin secara daring. Perusahaan juga menyiapkan berbagai program promosi guna menarik lebih banyak nasabah baru.
Di sisi lain, Kiwoom tetap melanjutkan rencana ekspansi meski pasar masih bergejolak. Perseroan saat ini masih menunggu persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk merealisasikan penambahan modal sekitar Rp 300 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














