Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren peningkatan simpanan valuta asing (valas) di industri perbankan turut dirasakan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN). Meski demikian, bank spesialis pembiayaan perumahan ini menegaskan struktur pendanaannya masih didominasi dana rupiah sejalan dengan fokus bisnis perseroan.
Corporate Secretary BTN Ramon Armando mengatakan, minat nasabah terhadap simpanan valas cenderung meningkat seiring dinamika pasar keuangan global dan pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
"BTN mencermati bahwa minat nasabah terhadap simpanan valas memang cenderung meningkat seiring dinamika pasar keuangan global dan pergerakan nilai tukar rupiah. Di BTN, tren tersebut juga terlihat melalui peningkatan aktivitas transaksi dan penempatan dana valas oleh sejumlah segmen nasabah," ujar Ramon kepada Kontan, Kamis (25/6/2026).
Baca Juga: BI Rate Naik ke 5,75%, BRI Finance Siapkan Strategi Jaga Margin
Namun demikian, Ramon menegaskan secara keseluruhan struktur pendanaan BTN masih didominasi oleh dana rupiah. Hal ini sejalan dengan karakteristik bisnis BTN yang fokus pada pembiayaan sektor perumahan domestik.
Per Mei 2026, total dana pihak ketiga (DPK) konsolidasi BTN tercatat mencapai Rp433,95 triliun atau meningkat 9,09% yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 397,78 triliun.
Menurutnya, kenaikan dana valas berasal dari kombinasi nasabah institusi maupun individu. Dari sisi korporasi, peningkatan terjadi karena kebutuhan pengelolaan likuiditas dan transaksi usaha. Sementara dari sisi individu, pertumbuhan lebih banyak dipicu kebutuhan diversifikasi aset dan antisipasi terhadap volatilitas nilai tukar.
"Peningkatan dana valas berasal dari kombinasi nasabah institusi maupun individu. Dari sisi institusi, terdapat kebutuhan pengelolaan likuiditas dan transaksi terkait kegiatan usaha. Sementara dari sisi individu, peningkatan lebih banyak didorong oleh kebutuhan diversifikasi aset dan antisipasi terhadap volatilitas nilai tukar," jelasnya.
Ramon menambahkan porsi dana valas BTN masih relatif kecil dibandingkan total DPK perseroan. Mayoritas penghimpunan dana maupun penyaluran kredit BTN masih berbasis rupiah.
Di tengah meningkatnya minat terhadap simpanan valas, BTN memastikan kondisi likuiditas valas tetap terjaga. Perseroan secara rutin memantau posisi aset dan liabilitas valas guna menjaga kecukupan likuiditas serta mengendalikan risiko nilai tukar.
"Likuiditas valas BTN berada pada level yang memadai dan dikelola secara prudent sesuai kebutuhan bisnis serta ketentuan regulator. BTN secara rutin melakukan pemantauan terhadap posisi aset dan liabilitas valas untuk memastikan kecukupan likuiditas dan menjaga eksposur risiko nilai tukar tetap terkendali," kata Ramon.
Baca Juga: Program Penjaminan Polis Hanya Menjamin Unsur Proteksi, Ini Respons AASI
Ke depan, BTN melihat peluang pertumbuhan DPK valas masih terbuka seiring tingginya ketidakpastian global serta kebutuhan nasabah dalam mengelola likuiditas dan melakukan diversifikasi portofolio.
Meski begitu, Ramon menegaskan perseroan tetap mengedepankan pertumbuhan dana yang berkualitas dan berkelanjutan. Karena itu, laju pertumbuhan DPK valas akan mengikuti perkembangan aktivitas ekonomi dan kebutuhan transaksi nasabah.
"BTN memandang pertumbuhan dana valas sebagai salah satu peluang untuk memperkuat diversifikasi sumber pendanaan. Namun fokus utama perseroan tetap pada penghimpunan dana yang mendukung pembiayaan sektor perumahan dan kebutuhan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan," ujarnya.
Untuk mendukung pertumbuhan dana valas, BTN mengandalkan sejumlah strategi, mulai dari penguatan layanan treasury dan cash management, optimalisasi hubungan dengan nasabah institusi, hingga pengembangan produk yang memudahkan transaksi lintas mata uang.
Baca Juga: Rasio Klaim Asuransi Kredit 102% pada Kuartal I-2026,AAUI Sebut Perlu Upaya Perbaikan
Selain itu, perseroan juga berupaya memperluas basis nasabah yang memiliki kebutuhan transaksi internasional dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta menjaga keseimbangan struktur pendanaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














