Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugu Re) mempertahankan strategi selektif dalam menerima risiko di tengah kondisi pasar reasuransi yang masih berada dalam fase soft market.
Technical Analytic & Development Group Head Tugu Re Andriansyah mengatakan, strategi tersebut berdampak pada penurunan gross written premium (GWP) atau premi bruto perusahaan sekitar 15% secara tahunan (year on year/YoY) hingga kuartal II-2026.
Namun, ia menjelaskan bahwa penurunan tersebut bukan disebabkan berkurangnya aktivitas bisnis, melainkan karena perusahaan lebih ketat dalam menyeleksi risiko yang akan diterima.
Baca Juga: BPJS Kesehatan: Peserta JKN Capai 282,7 Juta Jiwa hingga Akhir 2025
“Kami lebih memilih menjaga kualitas portofolio daripada mengejar volume premi bruto,” ujarnya kepada Kontan, Senin (29/6/2026).
Andriansyah menerangkan, Tugu Re tetap aktif menggarap bisnis reasuransi, baik melalui skema facultative untuk risiko individual maupun treaty untuk portofolio risiko. Namun, perusahaan hanya menerima risiko yang dinilai mampu memberikan profitabilitas dengan tarif premi yang memadai.
Menurutnya, hingga akhir 2026 prospek industri reasuransi masih cukup positif meski tekanan soft market diperkirakan masih terus berlanjut.
“Prospek sampai akhir 2026 masih positif, meski tetap harus hati-hati. Soft market memang masih ada, namun secara internal kami juga berupaya mempertahankan tingkat tarif di lini bisnis yang kami kelola,” lanjutnya.
Sebagai informasi, data terakhir Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan premi asuransi umum dan reasuransi mencapai Rp 53,43 triliun per April 2026. Nilai tersebut mengalami penurunan sebanyak 4,32% secara tahunan (year on year/YoY).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














