Reporter: Ferry Saputra | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan mobil secara wholesales pada Januari 2026 mencapai 66.447 unit, atau naik 7% secara Year on Year (YoY). Adapun penjualan ritel dari dealer ke konsumen sebanyak 66.936 unit, atau naik 4,5% secara YoY.
PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) menilai data penjualan kendaraan pada Januari 2026 tersebut memang memberikan angin segar bagi industri multifinance, khususnya yang bergerak di pembiayaan kendaraan bermotor.
Direktur Utama Clipan Finance Harjanto Tjitohardjojo mengatakan angka kenaikan penjualan tersebut mengindikasikan bahwa permintaan konsumen terhadap kendaraan masih cukup solid pada awal tahun.
Baca Juga: Pendapatan Premi Asuransi Jiwa BCA Tumbuh 32,9% pada 2025
"Hal itu secara langsung berkorelasi dengan potensi penyaluran kredit kendaraan oleh perusahaan pembiayaan maupun perbankan," katanya kepada Kontan, Minggu (1/3/2026).
Meskipun demikian, Harjanto menilai data satu bulan belum cukup untuk dijadikan acuan penuh. Dia bilang pada bulan Januari, kenaikan penjualan kerap memiliki karakteristik tersendiri, karena adanya efek awal tahun, yang mana konsumen maupun dealer cenderung aktif bertransaksi pasca liburan akhir tahun.
Oleh karena itu, dia menyarankan pelaku industri pembiayaan sebaiknya tetap menunggu dan memantau tren penjualan hingga kuartal pertama tahun ini selesai, sebelum mengambil kesimpulan yang lebih definitif. Menurutnya, perusahaan multifinance perlu melihat sejumlah faktor juga dalam menggenjot kinerja pembiayaan kendaraan.
"Faktor-faktornya, seperti stabilitas nilai tukar Rupiah, arah kebijakan suku bunga, dan daya beli masyarakat yang masih perlu terus dipantau sebagai variabel penentu," tuturnya.
Baca Juga: Jasindo Menilai Pertumbuhan Premi Masih Dibayangi Sejumlah Tantangan pada 2026
Secara keseluruhan, Harjanto mengatakan prospek pembiayaan kendaraan bermotor pada 2026 cukup menjanjikan, dengan beberapa catatan penting. Dari sisi pendorong, dia bilang tren elektrifikasi kendaraan membuka segmen pembiayaan baru yang makin berkembang. Selain itu, program subsidi atau insentif pemerintah yang berpotensi berlanjut turut mendukung daya beli masyarakat.
"Kompetisi yang sehat antar penyelenggara pembiayaan juga mendorong inovasi produk kredit yang lebih fleksibel dan terjangkau bagi konsumen," ungkapnya.
Di sisi lain, Harjanto tak memungkiri terdapat sejumlah tantangan yang tetap perlu diantisipasi terkait pembiayaan kendaraan bermotor. Dia bilang tingkat suku bunga yang masih relatif tinggi dapat menahan sebagian konsumen untuk mengambil kredit kendaraan. Ditambah, kualitas aset atau Non Performing Financing (NPF) juga harus dijaga di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian segmen masyarakat.
"Tak cuma itu, persaingan dengan skema pembelian tunai yang didorong oleh program trade-in maupun diskon langsung dari produsen juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan," ucapnya.
Baca Juga: RKAB Batubara Berpotensi Dipangkas, Asuransi YOII Akan Diversifikasi Portofolio
Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, Harjanto berpendapat industri multifinance berpotensi menunjukkan kinerja yang lebih baik, dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan catatan, momentum positif pada awal tahun ini dapat terjaga dan kondisi makro ekonomi tetap kondusif sepanjang 2026.
Untuk menggenjot kinerja pembiayaan kendaraan, Harjanto menuturkan Clipan Finance akan mengoptimalkan eksistensi di dealer atau showroom, serta pameran otomotif. Selain itu, pihaknya juga akan menawarkan skema pembiayaan yang kompetitif, lalu fokus pada segmen kendaraan yang peminatnya tinggi di pasar, transformasi digital dan efisiensi proses, serta menerapkan manajemen risiko yang lebih terukur.
Pada 2025, Harjanto menerangkan Clipan Finance mencatatkan piutang pembiayaan sebesar lebih dari Rp 9 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













