Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank UOB Indonesia bersiap menghimpun dana hingga Rp 4 triliun melalui Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Berkelanjutan V dan Obligasi Subordinasi Berkelanjutan V. Dana hasil penerbitan surat utang tersebut akan digunakan untuk memperkuat penyaluran kredit.
Dalam prospektus ringkas yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), UOB Indonesia menargetkan penghimpunan dana masing-masing sebesar Rp 2 triliun dari PUB Obligasi Berkelanjutan V dan Rp 2 triliun dari PUB Obligasi Subordinasi Berkelanjutan V.
Sebagai tahap awal, perseroan akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V Tahap I Tahun 2026 dengan nilai pokok maksimal Rp 100 miliar. Obligasi tersebut terdiri dari tiga seri dengan tenor 370 hari kalender, tiga tahun, dan lima tahun.
Baca Juga: Rasio Klaim Asuransi Kredit Capai 99,48% per April 2026
Selain itu, UOB Indonesia juga menawarkan Obligasi Subordinasi Berkelanjutan V Tahap I Tahun 2026 dengan nilai pokok maksimal Rp 100 miliar yang terdiri dari tenor tujuh tahun dan sepuluh tahun.
Masa penawaran awal dijadwalkan berlangsung pada 22-24 Juni 2026, sementara tanggal efektif ditargetkan pada 30 Juni 2026. Adapun distribusi obligasi secara elektronik akan dilakukan pada 7 Juli 2026 dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2026.
Manajemen UOB Indonesia menyatakan seluruh dana hasil penerbitan obligasi maupun obligasi subordinasi, setelah dikurangi biaya emisi, akan digunakan untuk meningkatkan penyaluran kredit.
"Sementara obligasi subordinasi juga akan memperkuat struktur permodalan bank sebagai modal pelengkap (Tier 2) sesuai ketentuan regulator," ungkap Manajemen dikutip Rabu (24/6).
Dari sisi fundamental, kinerja UOB Indonesia menunjukkan perbaikan sepanjang 2025. Laba bersih perseroan melonjak menjadi Rp 1,53 triliun pada 2025 dari Rp 406,24 miliar pada tahun sebelumnya.
Kenaikan laba ditopang oleh peningkatan pendapatan operasional lainnya serta penurunan pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).
Penyaluran kredit UOB Indonesia juga tumbuh 11,3% secara tahunan menjadi Rp 111,78 triliun pada akhir 2025, dibandingkan Rp 100,41 triliun pada 2024.
Di sisi lain, kualitas aset membaik dengan rasio kredit bermasalah (NPL) bruto turun menjadi 1,8% dari 2,05% pada tahun sebelumnya.
Per akhir 2025, total aset UOB Indonesia mencapai Rp 170,5 triliun, naik 9,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Dana pihak ketiga (DPK) juga meningkat menjadi Rp 133,31 triliun dari Rp 116,91 triliun pada 2024.
Dalam penerbitan surat utang ini, PT Fitch Ratings Indonesia memberikan peringkat AAA(idn) untuk obligasi dan AA(idn) untuk obligasi subordinasi UOB Indonesia.
Perseroan menunjuk PT Indo Premier Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi, sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk bertindak sebagai wali amanat.
Baca Juga: Ubah Nama, OJK Beri Izin Usaha PT Parare Internasional Pialang Reasuransi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














