kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.838   -72,00   -0,40%
  • IDX 6.428   18,20   0,28%
  • KOMPAS100 845   -0,13   -0,01%
  • LQ45 640   -0,52   -0,08%
  • ISSI 223   1,05   0,47%
  • IDX30 358   -0,96   -0,27%
  • IDXHIDIV20 436   -1,67   -0,38%
  • IDX80 96   -0,10   -0,11%
  • IDXV30 120   -0,39   -0,32%
  • IDXQ30 114   -0,46   -0,40%

Target Multifinance 2026 Berisiko Meleset, Pembiayaan Baru Tumbuh 1,88%


Senin, 10 Agustus 2026 / 09:34 WIB
Target Multifinance 2026 Berisiko Meleset, Pembiayaan Baru Tumbuh 1,88%
ILUSTRASI. Piutang Pembiayaan: Suasana di Kantor Cabang FIFGroup (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja industri perusahaan pembiayaan atau multifinance masih belum pulih kuat hingga semester I-2026.

Pertumbuhan piutang pembiayaan baru mencapai 1,88% secara tahunan menjadi Rp 511,26 triliun, jauh di bawah target pertumbuhan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar 6%-8% sepanjang 2026.

Pertumbuhan pembiayaan sepanjang enam bulan pertama tahun ini juga masih bergerak rendah dan berfluktuasi.

Kondisi tersebut menunjukkan permintaan pembiayaan belum sepenuhnya kembali menguat di tengah tekanan daya beli masyarakat dan dinamika ekonomi makro.

Baca Juga: Ekonomi Selandia Baru Tumbuh 0,8% pada Kuartal I-2026, Konflik Iran Masih Membayangi

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Modal Ventura, LKM, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman mengakui realisasi pertumbuhan industri hingga semester I-2026 masih berada di bawah ekspektasi regulator.

"Angkanya bisa jadi di bawah target proyeksi," kata Agusman.

Meski demikian, OJK masih melihat ruang pertumbuhan bagi industri multifinance hingga akhir tahun.

Pelaku usaha didorong memperluas sumber pertumbuhan melalui diversifikasi produk pembiayaan, sementara relaksasi sejumlah aturan diharapkan dapat menopang penyaluran pembiayaan.

Relaksasi tersebut antara lain berupa pelonggaran ketentuan uang muka pembiayaan kendaraan serta penurunan persyaratan rasio modal inti terhadap modal disetor untuk fasilitas modal usaha.

Di sisi industri, tantangan utama masih berasal dari daya beli masyarakat.

Baca Juga: Yield Obligasi dalam Tren Naik, Multifinance Pilih Selektif Rilis Surat Utang Baru

Chief Financial Officer PT Adira Dinamika Multi Finance Sylvanus Gani mengatakan pelemahan daya beli dapat menahan pertumbuhan pembiayaan baru sekaligus meningkatkan risiko terhadap kualitas kredit.

Karena itu, Adira Finance memilih memperkuat manajemen risiko sembari mencari sumber pertumbuhan baru. Hingga akhir Juni 2026, piutang pembiayaan Adira Finance tumbuh 7% secara tahunan menjadi Rp 64,9 triliun.

Pertumbuhan tersebut ditopang ekspansi secara selektif ke wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi serta pengembangan pembiayaan di luar sektor otomotif.

Strategi diversifikasi juga menjadi pilihan Astra Credit Companies (ACC) untuk menjaga pertumbuhan di tengah pasar yang belum sepenuhnya pulih.

EVP Corporate Communication & Strategy ACC Riadi Prasodjo mengatakan perusahaan tetap menjaga keseimbangan antara kualitas penyaluran pembiayaan dan ekspansi bisnis. 

ACC juga menjajaki pengembangan portofolio serta peningkatan layanan untuk memperluas basis pelanggan. Strategi tersebut dinilai penting agar perusahaan pembiayaan tidak hanya bergantung pada pembiayaan kendaraan di tengah tekanan daya beli.

Baca Juga: OJK Prediksi Pembiayaan Multifinance Tumbuh 6%-8% di 2026

Dengan kondisi tersebut, pemulihan industri multifinance pada paruh kedua 2026 masih akan sangat bergantung pada perbaikan daya beli, efektivitas relaksasi regulasi, serta kemampuan perusahaan memperluas produk dan segmen pembiayaan.

Target pertumbuhan 6%-8% yang ditetapkan OJK pun berpotensi sulit dicapai jika permintaan pembiayaan tidak segera menguat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU

[X]
×