Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Walau diterpa tekanan perlambatan ekonomi akibat pandemi Covid-19, bank besar di Tanah Air masih terbilang sehat. Hal ini tercermin dari beberapa rasio kesehatan bank yang tetap terjaga, sampai dengan semester I 2020.
PT Bank Mandiri Tbk misalnya, walau menurun posisi rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) masih terbilang tinggi di level 18,96%. Walau kalau dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya ada sedikit penurunan dari 20,45%.
Tetapi, rasio likuiditas juga tetap terjaga semisal loan to deposit ratio (LDR) yang malah membaik ke angka 88,5%. Posisi ini cenderung longgar untuk kelompok BUKU IV.
Penyebabnya, di semester I 2020 Bank Mandiri memang mencatatkan kenaikan dana pihak ketiga (DPK) yang tinggi sebesar 15,8% secara year on year (yoy) menjadi Rp 976,55 triliun. Pertumbuhan itu bisa dibilang menjadi yang paling agresif di antara kelompok BUKU IV.
Baca Juga: Bank BRI lunasi obligasi senilai Rp 980,50 miliar
Meski begitu, seperti kebanyakan bank pada umumnya Bank Mandiri juga mencatat kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) dari 2,59% di semester I 2019 menjadi 3,28% di semester II 2020.
Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar menjelaskan, pihaknya ke depan akan memastikan strategi pertumbuhan yang konservatif melalui penerapan prinsip kehati-hatian dan analisis sektor yang cermat dalam penyaluran kredit.
“Untuk mengantisipasi potensi ketidakpastian ekonomi ke depan, kami juga membangun pencadangan untuk memastikan terjaganya kualitas aset. Per Juni 2020, rasio coverage CKPN konsolidasi kami berada di kisaran 195,5%,” katanya, Rabu (19/8). Nah, bank berlogo pita emas ini menargetkan NPL di akhir tahun bakal dijaga pada kisaran 3,4%-3,6%.
Begitu juga dengan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) yang masih mencatat CAR cukup tebal di level 20,15%. Serta posisi LDR yang menurun dari level 92,81% per semester I 2020 menjadi 86,06%.
Walau demikian, NPL memang tetep tercatat naik dari 2,59% menjadi 3,28% di akhir Juni 2020 lalu secara gross. Nah, menurut Agus Sudiarto, Direktur Manajemen Risiko BRI menjelaskan, NPL terbesar terjadi pada segmen korporasi non BUMN. "Dari sektornya yang terbesar datang dari manufaktur. Ada satu debitur yang sudah NPL sejak September 2019," ungkapnya.
Meski begitu, Direktur Utama Bank BRI Sunarso menambahkan, pihaknya sudah melakukan pencadangan cukup besar untuk meng-cover resiko kredit. Dari total Rp 25,9 triliun NPL BRI secara bank only per Juni 2020, perseroan menganggarkan coverage ratio 200,3%. Itu meningkat dari rasio pencadangan pada periode yang sama tahun lalu sebesar 194,6%.
Baca Juga: Melihat efektivitas DP 0% kredit kendaraan bermotor ramah lingkungan













