Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Allo Bank Indonesia Tbk memilih mengurangi eksposur pada instrumen surat utang alias obligasi di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan inflasi.
Per Februari 2026, aset surat berharga Allo Bank tercatat turun tajam 70,37% secara tahunan menjadi Rp 1,35 triliun. Asal tahu saja, catatan tersebut berbeda dengan tren industri yang justru kepemilikan perbankan pada SBN meningkat dalam setahun terakhir.
Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) menunjukkan, kepemilikan perbankan pada SBN mencapai Rp 1.384 triliun per 26 Maret 2026 atau setara 20,45% dari total outstanding. Angka ini naik dari Rp 1.121 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Kredit Masih Tumbuh, CIMB Niaga Kurangi Portofolio Obligasi Saat Permintaan Lemah
Treasury Head Allo Bank Indonesia Bagus Razy Syabandita Hakim mengatakan, saat ini penempatan dana di SBN bukan menjadi prioritas bank.
“Hal ini karena tekanan risiko dari ketidakpastian global, khususnya tensi geopolitik yang berdampak pada harga minyak dan jalur distribusinya,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (31/3/2026)
Ia menyebut, lonjakan harga minyak dunia, dengan indikasi harga Brent yang sempat menyentuh US$ 112 per barel, berpotensi mendorong kenaikan inflasi ke depan.
Selain faktor global, tekanan domestik juga menjadi pertimbangan. Mulai dari kondisi defisit anggaran, dinamika pasar modal yang tercermin dari MSCI, hingga penurunan peringkat investasi.
Di sisi lain, tekanan inflasi juga meningkat seiring momentum musiman seperti tahun baru, Imlek, hingga Ramadan dan Lebaran, yang turut diperparah oleh kenaikan harga energi.
Dengan berbagai faktor tersebut, Allo Bank memutuskan untuk mengurangi eksposur pada SBN dan lebih memprioritaskan stabilitas likuiditas serta mitigasi risiko.
“Fokus kami saat ini menjaga stabilitas likuiditas dan mengantisipasi eskalasi risiko,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












