kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Modal Bank Masih Kuat, Kredit Mulai Selektif Saat Rupiah Melemah


Senin, 18 Mei 2026 / 05:29 WIB
Modal Bank Masih Kuat, Kredit Mulai Selektif Saat Rupiah Melemah
ILUSTRASI. Teller menghitung uang nasabah di BAnk Mandiri, JAkarta. Industri perbankan nasional masih menunjukkan ketahanan modal di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah. (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri perbankan nasional masih menunjukkan ketahanan modal di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Meski rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) mulai menurun, level permodalan bank dinilai masih cukup kuat untuk menopang ekspansi bisnis sekaligus meredam risiko pasar.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rata-rata CAR industri perbankan pada Maret 2026 berada di level 25,09%. Angka ini turun dibandingkan Februari 2026 sebesar 25,83% dan Desember 2025 yang mencapai 25,87%.

Penurunan tersebut terjadi di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global, tekanan kurs rupiah, serta kenaikan harga minyak dunia yang mulai memengaruhi aktivitas dunia usaha.

Baca Juga: Perbankan Jaga Kecukupan Modal untuk Menghadapi Gejolak Global

Analis Global Markets Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai posisi modal perbankan saat ini masih cukup aman untuk menghadapi berbagai tekanan eksternal.

Namun, bank mulai lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit, terutama ke sektor yang sensitif terhadap gejolak nilai tukar.

“Dengan nilai tukar rupiah yang melemah dan harga minyak dunia meningkat, bank cenderung lebih selektif menyalurkan kredit,” ujar Myrdal, Minggu (17/5/2026).

Ia menjelaskan, kehati-hatian itu terutama terlihat pada pembiayaan sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor maupun aktivitas ekspor.

Kondisi tersebut diperkirakan membuat pertumbuhan kredit pada sektor-sektor tertentu masih tertahan sepanjang kuartal II-2026.

Meski demikian, Myrdal menilai secara umum industri perbankan masih berada dalam kondisi solid. Kekuatan modal dan hasil stress test yang relatif baik dinilai menjadi modal utama bagi bank untuk tetap menjaga pertumbuhan bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sejumlah bank besar juga masih mencatatkan rasio CAR yang tinggi. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), misalnya, membukukan CAR sebesar 22,9% hingga kuartal I-2026.

Direktur Keuangan dan Strategi BRI Achmad Royadi mengatakan, posisi modal yang kuat memberi ruang bagi perseroan untuk tetap agresif menyalurkan kredit.

Baca Juga: Semakin Kuat Kuasai Pasar KPR Subsidi, BSN Berhasil Salurkan 16.523 Unit Rumah

"Permodalan yang kuat menjadi fondasi penting untuk menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan," kata Achmad.

BRI juga telah melakukan stress test untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan risiko ekonomi ke depan. Dari hasil pengujian tersebut, perseroan optimistis kinerja masih mampu tumbuh positif pada kuartal II-2026.

Hingga akhir Maret 2026, total kredit dan pembiayaan yang disalurkan BRI mencapai Rp 1.562 triliun atau tumbuh 13,68% secara tahunan.

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan CAR lebih tinggi, yakni sebesar 27% pada kuartal I-2026.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, perseroan terus menjaga kualitas modal dan likuiditas di tengah tingginya ketidakpastian global.

"BCA secara rutin melakukan stress test untuk memastikan kualitas bisnis dan pertumbuhan kinerja tetap terjaga,” ujar Hera.

Baca Juga: Kredit Manufaktur Diprediksi Melambat, Permata Bank: Ini Tantangan Pemerintah!

Pada kuartal I-2026, kredit BCA tercatat mencapai Rp 994 triliun atau tumbuh 5,6% secara kuartalan. Sementara laba bersih naik 3,8% menjadi Rp14,7 triliun.

Di tengah tekanan eksternal dan volatilitas pasar keuangan, perbankan nasional kini menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan pengelolaan risiko.

Namun dengan modal yang masih tebal, industri perbankan dinilai masih memiliki ruang untuk menjaga pertumbuhan hingga sisa ta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×