kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.857   55,00   0,33%
  • IDX 8.255   -35,86   -0,43%
  • KOMPAS100 1.167   -4,84   -0,41%
  • LQ45 838   -3,80   -0,45%
  • ISSI 296   -0,13   -0,05%
  • IDX30 436   -0,10   -0,02%
  • IDXHIDIV20 522   1,54   0,30%
  • IDX80 130   -0,55   -0,42%
  • IDXV30 144   1,07   0,75%
  • IDXQ30 141   0,04   0,03%

Amartha Luncurkan Amartha Prosper, Produk Investasi untuk Danai UMKM


Senin, 09 Februari 2026 / 15:36 WIB
Amartha Luncurkan Amartha Prosper, Produk Investasi untuk Danai UMKM
ILUSTRASI. PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) (KONTAN/Ferry Saputra)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) resmi meluncurkan produk investasi terbarunya, Amartha Prosper, yang dirancang untuk menghubungkan modal publik dengan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia.

Chief Funding Officer Amartha Julie Fauzie menjelaskan, produk yang terintegrasi dalam aplikasi digital Amartha ini memungkinkan investor memperoleh imbal hasil yang kompetitif sekaligus berkontribusi langsung pada penguatan ekonomi komunitas, khususnya perempuan pengusaha ultra mikro di wilayah pedesaan.

Ia menuturkan, peluncuran Amartha Prosper merupakan langkah strategis jangka panjang perusahaan untuk memperluas akses investasi berbasis dampak (impact investing) yang terukur dan bertanggung jawab.

Baca Juga: Prudential Indonesia Catat Premi Asuransi Jiwa Segmen Menengah Rp 1 Triliun

“Amartha Prosper menjadi alternatif investasi yang relevan dengan kebutuhan investor saat ini, sekaligus memperkuat sektor UMKM produktif di Indonesia. Namanya Prosper karena ada manfaat bagi investor dan juga bagi penerima pendanaan, sehingga bisa prosper together. Itu filosofi di balik Amartha Prosper,” ujar Julie dalam acara di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026).

Melalui Amartha Prosper Grassroots Growth Series (GGS), investor dapat menyalurkan dana ke UMKM mitra Amartha yang tersebar luas secara geografis dan bergerak di berbagai sektor usaha.

Dengan demikian, investor memperoleh eksposur portofolio yang lebih terdiversifikasi dengan risiko yang lebih terukur.

Baca Juga: CNAF Andalkan Risk Based Pricing di Tengah Penyesuaian Bunga Kredit

Julie menyebutkan, Amartha Prosper menawarkan potensi imbal hasil mulai dari 6,5% hingga 14%, yang terbagi dalam empat profil risiko.

Pertama, Balanced-Flex dengan potensi imbal hasil bulanan yang fleksibel.

Kedua, Balanced yang relatif resilien terhadap kondisi ekonomi.

Ketiga, Progressive dengan potensi pertumbuhan lebih tinggi.

Keempat, Dynamic yang menawarkan potensi imbal hasil tertinggi dengan sensitivitas risiko yang lebih besar.

Baca Juga: BCA Perkuat Sistem IT dan Keamanan Siber dengan Capex Jumbo

Setiap investor dapat memilih profil risiko sesuai preferensi masing-masing, dengan akses produk sepenuhnya melalui aplikasi Amartha.

Di sisi lain, Julie menegaskan komitmen perusahaan dalam memperkuat mitigasi risiko agar imbal hasil investor tetap terjaga sesuai ekspektasi. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko.

“Kami memiliki sistem pengelolaan risiko berbasis teknologi, termasuk mitigasi risiko untuk menjaga pengembalian investasi,” ungkapnya.

Menurut Julie, Amartha mengandalkan basis data UMKM yang telah dipetakan berdasarkan profil risiko investor.

Pendekatan ini memungkinkan penyaluran pendanaan yang lebih presisi, sehingga potensi imbal hasil dapat lebih selaras dengan preferensi risiko masing-masing investor.

Sementara itu, Financial Planner Melvin Mumpuni menilai Amartha Prosper menghadirkan konsep impact investing yang masih relatif baru bagi investor ritel di Indonesia.

Baca Juga: Ini Tantangan dan Strategi Pertumbuhan Aset Dana Pensiun 2026 Menurut Asosiasi DPLK

“Secara global, tren impact investing terus meningkat. Banyak institusi besar mulai mengalokasikan dana investasinya ke proyek-proyek berbasis dampak,” kata Melvin.

Hingga akhir 2025, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp 37 triliun modal usaha kepada 3,7 juta UMKM perempuan di lebih dari 50.000 desa.

Dari jumlah tersebut, 53% borrower berasal dari sektor perdagangan, diikuti sektor pertanian sebesar 22%, peternakan 9%, jasa 6%, serta industri rumah tangga dan sektor lainnya sebesar 7%.

Selanjutnya: Revisi UU Migas, Menakar Rencana Pertamina Jadi Regulator dan Operator Hulu Migas

Menarik Dibaca: Promo Alfamart Paling Murah Sejagat 8-15 Februari 2026, Sambal Indofood Beli 2 Hemat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×