Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) secara konsisten memperkuat kapabilitas teknologi informasi (IT) sebagai bagian dari strategi jangka panjangnya untuk menghadapi tantangan digital dan memberikan layanan perbankan yang lebih cepat, aman, dan berkualitas bagi jutaan nasabahnya di Indonesia.
Tak tanggung-tanggung, BCA selalu mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) jumbo setiap tahunnya untuk memperkuat infrastruktur IT. Hanya saja, manajemen BCA belum merinci angka pasti alokasi capex tahun ini.
Sebagai gambaran, tahun 2024, BCA mengalokasikan capex sekitar Rp 8 triliun. Lalu pada tahun 2025, alokasi capex ditingkatkan 8% dari tahun sebelumnya. “Tahun ini, alokasi capex BCA cukup besar, yang pasti triliunan. Sekitar 30% capex digunakan untuk penguatan IT. Kalau kita bicara investasi teknologi IT sekarang, termasuk cyber security, itu tidak murah,” kata SPV IT Security BCA, Ferdinan Marlim, Sabtu (7/2/2026).
Baca Juga: Strategi BCA Mengikat Nasabah Lewat BCA Expoversary 2026
Ferdinan bilang, BCA sangat fokus memperhatikan sistem keamanan siber. Pasalnya, 99% transaksi di BCA saat ini sudah dilakukan secara digital. Sehingga perbankan harus memastikan sistem keamanan siber yang berlapis untuk menutup celah yang bisa diintai para pelaku kejahatan digital.
BCA menyadari bahwa setiap perkembangan digitalisasi selalu dibarengi juga dengan peningkatan kejahatan siber. Ferdinan mengatakan, tahun 2025, serangan yang paling banyak diterima BCA adalah DDoS (Distributed Denial-of-Service).
Serangan DDoS adalah kejahatan siber yang melumpuhkan server, layanan, atau jaringan dengan membanjirinya menggunakan lalu lintas (traffic) internet palsu dari banyak sumber sekaligus. “Tahun lalu, serangan DDoS mencapai rekor. Itu sebabnya, sistem IT perlu dimaintenance dengan baik,” ujar Ferdinan.
Ferdinan mengatakan, BCA melakukan pencegahan kejahatan perbankan lewat tiga hal, yakni proses, people, dan teknologi. Aspek people dinilai sangat penting diperhatikan karena merupakan titik terlemah di mana pun.
Baca Juga: Strategi BCA Perkuat Kualitas Layanan Terhadap Nasabah
Sementara itu, Senior Vice President Wholesale Transaction Banking Product Development BCA, Martinus Robert Winata, memaparkan BCA terus menggencarkan edukasi kepada nasabah, termasuk nasabah bisnis, untuk bisa mencegah kejahatan siber yang masuk melalui skema phishing dan social engineering.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah langkah yang dapat dilakukan nasabah untuk menjaga keamanan data pribadi, antara lain menggunakan kata sandi yang kuat, tidak membagikan informasi pribadi di media sosial, serta berhati-hati saat mengakses jaringan WiFi publik.
Selain itu, nasabah diimbau kian cermat di ruang digital, jangan mudah tergoda klik tautan atau membuka lampiran yang menjebak. Pastikan alamat situs aman dan tepercaya, hindari mengunduh aplikasi dari sumber tak resmi, serta rajin memperbarui perangkat lunak agar gawai tetap tangguh dan data terlindung utuh.
Robert menambahkan, keamanan siber bukan sekadar urusan bank semata. Partisipasi aktif nasabah adalah kunci utama penjagaan bersama. “Saat ada aktivitas mencurigakan yang tercium, segera laporkan melalui kanal resmi BCA, karena sigap bertindak hari ini mencegah kerugian di kemudian hari,” pungkasnya.
Selanjutnya: 1,58 Juta Karyawan Sudah Laporkan SPT 2025, Aktivasi Coretax Capai 13 Juta
Menarik Dibaca: Untung Besar Menyambut Imlek 2026! Wingstop Tebar Promo Lucky Deal, Hemat 50% Lebih
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













