kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.915   45,00   0,25%
  • IDX 5.665   -156,25   -2,68%
  • KOMPAS100 732   -20,31   -2,70%
  • LQ45 558   -14,54   -2,54%
  • ISSI 196   -4,85   -2,41%
  • IDX30 317   -7,87   -2,42%
  • IDXHIDIV20 392   -9,24   -2,30%
  • IDX80 83   -2,30   -2,69%
  • IDXV30 107   -1,90   -1,76%
  • IDXQ30 102   -2,43   -2,32%

Ancaman pengetatan likuiditas 2017 kian beralasan


Rabu, 26 Oktober 2016 / 23:10 WIB


Reporter: Galvan Yudistira | Editor: Adi Wikanto

Jakarta. PT Bank Central Asia Tbk memprediksi dengan potensi pendanaan infrastruktur tahun depan bisa memperketat likuiditas perbankan. Mengingat, kebutuhan dana infrastruktur tahun depan sangat besar.

Seperti diketahui, tahun depan berdasarkan data RAPBN 2017 belanja konstruksi pemerintah mengalami kenaikan 16,7% yoy menjadi Rp 346,6 triliun. Direktur Utama BCA, Jahja Setiaatmadja mengatakan untuk mengantisipasi hal in , diharapkan partisipasi semua bank baik swasta maupun pemerintah.

“Dikhawatirkan likuiditas perbankan tahun depan bisa mengetat jika nanti ada penarikan dana dalam waktu singkat untuk kebutuhan proyek infrastruktur,” ujar Jahja, Rabu (26/10).

Selain itu, untuk mengantisipasi likuiditas ini, bank juga perlu menyeimbangkan pembiayaan dengan pendanaan. Namun Jahja menyebut, sampai saat ini kondisi likuiditas perbankan masih berada ditahap normal. Hal ini bisa dilihat dari rasio kredit terhadap simpanan atau LDR yang masih berada diangka 90%.

Jahja mengakui, jika pembangunan infrastruktur ini sukses dilakukan pemerintah dalam dua sampai tiga tahun mendatang, diharapkan realisasi investasi akan meningkat sehingga bisa meningkatkan jumlah kredit secara umum.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×