kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

APPI targetkan NPL tahun depan 1,2%


Kamis, 29 Desember 2011 / 11:13 WIB
APPI targetkan NPL tahun depan 1,2%
ILUSTRASI. Yin Weidong, Chairman dan CEO Sinovac berharap, vaksin Covid-19 Sinovac akan melindungi lebih banyak orang di dunia.


Reporter: Adisti Dini Indreswari | Editor: Havid Vebri

JAKARTA. Pertumbuhan industri pembiayaan tahun ini memang pesat. Tapi sayang, tingginya rasio pembiayaan bermasalah alias non performing loan (NPL) membayangi industri multifinance, terutama pembiayaan otomotif.

Data Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) memaparkan, NPL industri multifinance saat ini berada di kisaran 1,31%. Penyumbang terbesar NPL adalah pembiayaan konsumen, yang didominasi otomotif dengan tingkat NPL mencapai 1,8%. Ketua APPI Wiwie Kurnia berharap, rasio NPL tahun depan bisa ditekan lebih rendah lagi.

"Kami berharap NPL turun menjadi 1,2% di tahun depan, dengan asumsi kondisi ekonomi Indonesia membaik," kata dia, belum lama ini. Untuk menekan NPL, Wiwie mengimbau seluruh multifinance segera melakukan perbaikan manajemen risiko.

Beberapa perusahaan pembiayaan yang dihantam kenaikan NPL tahun ini adalah Oto Multiartha dan Summit Oto Finance. Keduanya merupakan anak usaha Sumitomo Corporation asal Jepang.

Akibat tingginya NPL, mereka terpaksa mengerem pembiayaan tahun ini. Alhasil, pembiayaan tahun ini ditaksir Rp 18,3 triliun atau lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai Rp 24,7 triliun. Per November 2011, pembiayaan yang sudah disalurkan sebesar Rp 16,9 triliun.

Saat ini, posisi analisa umur piutang alias overdue untuk Oto yang membiayai mobil sebesar 1,2%. Sedangkan overdue Summit yang membiayai sepeda motor di kisaran 2,17%.

Asal tahu saja, semakin besar overdue maka akan memperkecil keuntungan yang dikantongi perusahaan setelah dikurangi biaya operasional. "Target kami untuk overdue Oto di bawah 1%, sedangkan Summit diupayakan 1,5%," ujar Idham Cholid, Sekretaris Perusahaan Grup Oto kepada KONTAN, Rabu (28/12).

Menurut dia, ada tiga langkah yang akan ditempuh Grup Oto untuk memperbaiki kualitas kredit di tahun depan. Pertama, memisahkan fungsi marketing dan kredit. Kedua, mengotimalkan call center untuk collection. Ketiga, membuat collection center yang bisa menangani beberapa cabang sekaligus.

Sementara langkah yang ditempuh BFI Finance adalah mengedepankan proses kredit yang transparan . "Selain itu, struktur pembiayaan juga harus benar," timpal Cornelius Henry Kho, Direktur BFI.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×