Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Asei Indonesia menyebut perlambatan aktivitas ekspor-impor dan investasi berpotensi memengaruhi pertumbuhan premi, terutama pada lini bisnis yang berkaitan dengan perdagangan dan pembiayaan.
Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe mengatakan, pengaruh tersebut sejalan dengan fokus bisnis Asei pada asuransi keuangan, seperti asuransi kredit, penjaminan, dan asuransi terkait perdagangan.
“Bagi Asei yang memiliki fokus pada asuransi keuangan seperti asuransi kredit, penjaminan, dan asuransi terkait perdagangan, perlambatan aktivitas ekspor-impor maupun investasi dapat memengaruhi pertumbuhan premi,” ujar Dody kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).
Baca Juga: Update Rencana Penghapusan KBMI 1, OJK: Tunggu Dokumen UU P2SK
Menurutnya, lini usaha yang paling sensitif terhadap perlambatan ekonomi antara lain asuransi kredit perdagangan dan kredit modal kerja, asuransi marine cargo, asuransi properti dan engineering yang berkaitan dengan proyek investasi, serta sejumlah lini korporasi yang bergantung pada aktivitas perdagangan dan manufaktur.
"Bagi Asei, dampak perlambatan ekonomi terutama terlihat pada keputusan pelaku usaha untuk menunda ekspansi bisnis, mengurangi volume perdagangan, atau lebih berhati-hati dalam mengambil fasilitas pembiayaan," lanjutnya.
Kondisi tersebut berpotensi mengurangi pertumbuhan premi baru bagi perusahaan. Meski demikian, ia menilai kebutuhan mitigasi risiko tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi. Oleh karena itu, Asei masih melihat peluang pertumbuhan dari meningkatnya kesadaran manajemen risiko, khususnya pada sektor ekspor, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), perdagangan internasional, serta rantai pasok.
Untuk menjaga pertumbuhan bisnis, Asei menyiapkan sejumlah strategi. Perusahaan akan memperkuat bisnis inti pada asuransi kredit, surety bond, dan asuransi perdagangan yang menjadi kompetensi utama perseroan.
Selain itu, Asei juga memperluas penetrasi ke sektor ekspor, khususnya pada komoditas dan industri yang masih memiliki prospek positif di pasar internasional.
Dody mengatakan perusahaan juga akan meningkatkan kualitas underwriting agar pertumbuhan premi tetap diimbangi dengan kualitas risiko yang sehat. Di samping itu, Asei memperkuat kerja sama dengan perbankan, lembaga pembiayaan, dan institusi pemerintah guna menciptakan sumber bisnis yang berkelanjutan.
Perusahaan juga memanfaatkan digitalisasi proses bisnis untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperluas akses pasar. Diversifikasi portofolio terus dilakukan agar perusahaan tidak terlalu bergantung pada satu sektor ekonomi tertentu.
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat premi asuransi umum dan reasuransi mencapai Rp 53,43 triliun per April 2026 atau turun 4,32% secara tahunan (year on year/yoy).
Baca Juga: BCA Jaga Kualitas Kredit di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













