Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Meski pertumbuhan kredit diproyeksi membaik pada 2026, bank nampaknya masih suka mengoleksi surat utang untuk memanfaatkan longgarnya likuiditas di awal tahun.
Kementerian Keuangan mencatat, kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) oleh perbankan mencapai Rp 1.394 triliun hingga 13 Januari 2026, setara 21,07% dari total SBN beredar. Kalau dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlahnya meningkat. Per 9 Januari 2025, kepemilikan bank sebesar Rp 1.153 triliun atau setara 19,02% dari SBN beredar.
Menurut Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto, tren peningkatan kepemilikan bank di SBN ini salah satunya didorong oleh imbal hasil yang menarik. Memanfaatkan momentum koreksi, bank mengambil kesempatan untuk melakukan aksi buy on dip.
Baca Juga: Merespons Kabar Soal IPO Unit Usaha Syariah, CIMB Niaga: Masih Fokus Spin Off
Selain faktor valuasi, Myrdal menyebut awal tahun juga menjadi waktu yang tepat bagi bank untuk melakukan penyesuaian portofolio, termasuk mengoleksi seri SBN baru maupun SBN tenor pendek. Menurutnya, instrumen berjangka pendek sesuai dengan strategi taktikal perbankan di tengah kondisi global yang masih belum kondusif.
“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, banyak bank cenderung mengambil SBN dengan tenor pendek sebagai langkah taktikal,” kata Myrdal kepada Kontan, Rabu (28/1/2026).
Namun, strategi penambahan surat utang oleh perbankan ke depannya bakal bergantung pada kebutuhan. Myrdal sendiri optimistis prospek ekonomi domestik yang membaik akan mendorong penyaluran kredit.
Maybank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini mencapai 5,21%, meningkat dibandingkan proyeksi tahun lalu sebesar 5,07%. Seiring dengan itu, pertumbuhan kredit diperkirakan ikut menguat, terutama dengan dampak penurunan suku bunga yang mulai terasa.
“Opportunity cost of money menurun, apalagi setelah adanya kebijakan pemindahan likuiditas dari rekening Bank Indonesia ke rekening bank-bank Himbara. Likuiditas perbankan menjadi lebih longgar, tidak hanya di Himbara tetapi juga bank non-Himbara,” jelas Myrdal.
Baca Juga: Pengamat Sebut Insentif PPN DTP Belum Dorong Asuransi Properti Ritel
Dengan likuiditas yang memadai, perbankan terdorong untuk meningkatkan penyaluran kredit guna menjaga spread dan net interest margin (NIM). Myrdal memperkirakan kredit perbankan pada tahun ini berpeluang tumbuh double digit sebesar 10,21%, setelah tahun lalu tumbuh sebesar 9,6%.
Pertumbuhan tersebut, menurutnya, bakal disokong sektor pertanian dan pangan, energi, pendidikan, kesehatan, UMKM, ekonomi berbasis daerah dan desa, pertahanan, pembiayaan ekspor, serta investasi. Pertumbuhan tersebut juga ditopang oleh sinergi kebijakan antara pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan LPS.
Sejalan dengan industri, Direktur Utama KB Bank Kunardy Lie mengaku kepemilikan SBN KB Bank juga meningkat di awal tahun. Ia bilang itu merupakan strategi pemanfaatan likuiditas yang relatif longgar di tengah pertumbuhan kredit yang masih bertahap.
“Dalam kondisi ini, SBN tetap menjadi pilihan utama penempatan dana, mengingat imbal hasilnya yang kompetitif dan profil risikonya yang rendah,” jelas Kunardy.
Kunardy bilang pihaknya mencermati kondisi suku bunga tinggi di global dan kebijakan moneter yang cenderung ketat di dalam negeri. Kondisi ini mendorong bank untuk menjaga portofolio secara prudent.
Sepanjang tahun ini, KB Bank memperkirakan kepemilikan SBN berada pada level yang relatif stabil sebagai bagian dari strategi pengelolaan likuiditas dan risiko, dengan fleksibilitas untuk menyesuaikan seiring meningkatnya permintaan kredit.
Di sisi lain, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengaku pihaknya tetap fokus di kredit untuk menggunakan likuiditas dana pihak ketiga (DPK). “SBN sebagai alternatif untuk mengefisiensikan balance sheet dan income,” katanya.
Sebagai gambaran, per November 2025 kepemilikan surat berharga CIMB Niaga mencapai Rp 86,57 triliun. Jumlahnya naik dari posisi Januari 2025 yang sebesar Rp 71,91 triliun dan November 2024 di Rp 76,57 triliun.
Namun begitu, ia tak menampik bahwasannya permintaan kredit yang masih lemah di seluruh segmen menjadi tantangan serius. Di tengah kondisi itu, Lani bilang bank perlu memastikan kualitas aset tetap sehat.
Selanjutnya: IIMS 2026: Dyandra Ungkap Tren dan Strategi Baru Pameran Otomotif
Menarik Dibaca: Jangan Lewatkan! Promo Alfamart Serba Gratis Berakhir 31 Januari 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













