Reporter: Galvan Yudistira, Yuwono Triatmodjo | Editor: Sanny Cicilia
JAKARTA. Persaingan perebutan dana pihak ketiga (DPK) antar bank semakin ketat. Salah satu indikasinya, selisih suku bunga simpanan berjangka (deposito) antar bank berbeda kelas yang kian menciut.
Mochammad Doddy Ariefianto, Ekonom Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengatakan, selisih suku bunga deposito antara bank kecil dengan bank yang lebih besar memang semakin menyempit mini. Ini menandakan adanya pengetatan likuiditas yang dikhawatirkan berujung pada perang suku bunga lagi.
Ambil contoh rata-rata suku bunga deposito jangka waktu satu bulan bank kelompok BUKU I dan BUKU II. Akhir tahun 2013, selisihnya masih berkisar 82 bps. Namun per November 2015, selisihnya hanya 44 bps (lihat tabel).
Pada akhir 2015, kata Doddy, selisih suku bunganya kembali menipis hanya berkisar 18 bps saja. "Selisih sebesar 50 bps yang terjadi sampai Juni 2015 menurut saya sebenarnya cukup ideal," tutur Doddy, Selasa (2/2). Hal serupa terjadi di bank di BUKU III dan IV.
Penyebab
Menurut Doddy, ketatnya persaingan bunga disebabkan tiga hal. Pertama aliran masuk dana asing yang masih rendah ketimbang 2011–2012 silam. Jika kini aliran dana masuk hanya miliaran rupiah, dulu bisa mencapai puluhan miliar rupiah per hari.
Kedua, pemerintah menyerap likuiditas pasar lewat penerbitan surat utang negara (SUN) yang cukup masif. Padahal, penyaluran dana kembali ke masyarakat biasanya butuh rentang waktu lagi.
Faktor ketiga, kata Doddy, seperti yang menjadi dugaan Juda Agung, Direktur Eksekutif Bidang Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia bahwa tren sebagian masyarakat telah menggunakan simpanannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Ini disebabkan adanya layoff atau PHK," imbuh Doddy.
Penurunan suku bunga acuan (BI rate) pada pertengahan Januari 2016 memang bisa membuka peluang melebarkan kembali selisih suku bunga simpanan. "Namun butuh tenggat waktu dua hingga empat minggu untuk melihat dampaknya bagi suku bunga simpanan," ujar Doddy.
Suhardi Petrus Sekretaris Perusahaan Bank Negara Indonesia (BNI) membenarkan persaingan bank berebut nasabah deposan kian sengit. “Hal ini menyebabkan bank yang memberikan layanan dan kelengkapan transaksi yang akan dipilih,” kata Suhardi.
Dengan selisih suku bunga deposito yang tidak terlalu besar tersebut, bank kecil harus berupaya memberikan layanan yang lebih baik.
Direktur Utama Bank Dinar Indonesia Hendra Lie mengatakan, pihaknya memiliki strategi memberikan program khusus untuk memikat nasabah, salah satunya program cash back. "Penurunan BI rate menurunkan LDR ke level 79%–79%, lebih rendah dari tahun lalu," imbuh Hendra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













