kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

OJK Ungkap Tantangan Industri Keuangan Syariah, dari Produk hingga Literasi


Sabtu, 04 April 2026 / 16:05 WIB
OJK Ungkap Tantangan Industri Keuangan Syariah, dari Produk hingga Literasi
ILUSTRASI. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi (KONTAN/Ferry Saputra)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan sejumlah tantangan dalam mengembangkan industri keuangan syariah.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan, salah satu tantangannya berasal dari diversifikasi produk.

OJK memaparkan pengembangan produk keuangan syariah masih didasari pada produk konvensional, lalu kurangnya inovasi produk, dan diferensiasi produk yang kurang kuat.

Baca Juga: Zurich Life Prioritaskan Penempatan Investasi ke Instrumen Obligasi

Selain itu, tantangan datang dari kurangnya pemahaman masyarakat sehingga produk keuangan syariah belum menjadi pilihan utama.

Friderica menuturkan kalau masyarakat ditanya mengenai syariah, mereka sudah paham dan yakin ingin membeli.

"Namun, ketika ditanya produknya, mereka itu tidak mengerti. Nama Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) tidak semua mengerti. Jadi, itu menjadi target kami melakukan sosialisasi yang lebih lagi. Sebab, ketika orang punya keyakinan, kenal produknya, dan PUJK-nya, inklusi bisa meningkat," ucapnya dalam acara Penutupan GERAK SYARIAH 2026 di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (2/4/2026).

Friderica bilang hal itu juga tercermin dari data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, yang mana literasinya sudah 43%, tetapi inklusinya cuma 13%.

Baca Juga: Hasil Investasi Tumbuh 207,77% pada 2025, Ini Penjelasan Zurich Life

"Jadi, rasanya sangat ironis, sebenarnya orang sudah tahu dan yakin, tetapi belum menggunakan," tuturnya.

Lebih lanjut, Friderica mengungkapkan tantangan lain datang dari peningkatan kualitas sumber daya manusia dan Information Technology (IT).

Dia mengatakan, saat ini pelaku industri belum memliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, serta IT yang terbatas untuk mendukung inovasi dan digitalisasi.

Friderica menyampaikan penguatan permodalan di industri keuangan syariah juga menjadi tantangan yang harus diantisipasi.

Baca Juga: Tokio Marine Indonesia Beberkan Sejumlah Tantangan Dalam Meningkatkan Ekuitas

Dia bilang terbatasnya permodalan membuat pelaku usaha menjadi sulit untuk melakukan ekspansi dan memperluas skala bisnis.

Selain itu, terbatasnya permodalan juga bisa membatasi pertumbuhan industri keuangan syariah secara keseluruhan.

Menurut Friderica, berbagai tantangan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi para stakeholder. Dia juga berharap PUJK bisa makin meningkatkan inklusi kepada masyarakat.

Sementara itu, OJK menyampaikan industri keuangan syariah masih menunjukkan kinerja positif pada 2025 di tengah isu dinamika geopolitik dan perekonomian global.

Friderica mengungkapkan total aset industri keuangan syariah mencapai Rp 3.131 triliun pada 2025.

Baca Juga: Penyaluran KUR Awal 2026 Belum Optimal, Bank Tetap Jaga Kualitas Kredit

"Nilainya tumbuh 8,61%, secara Year on Year (YoY)," ungkapnya.

Friderica merinci, total aset perbankan syariah mencapai Rp 1.067 triliun, pasar modal syariah Rp 1.800 triliun, dan industri keuangan non bank sebesar Rp 188 triliun pada 2025.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×