kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.593.000   1.000   0,04%
  • USD/IDR 17.693   -14,00   -0,08%
  • IDX 6.437   -24,30   -0,38%
  • KOMPAS100 850   -5,62   -0,66%
  • LQ45 647   -3,80   -0,58%
  • ISSI 223   -0,27   -0,12%
  • IDX30 359   -2,55   -0,71%
  • IDXHIDIV20 447   -3,40   -0,76%
  • IDX80 97   -0,66   -0,67%
  • IDXV30 124   -0,63   -0,51%
  • IDXQ30 116   -0,92   -0,79%

Bank JTrust Indonesia (BCIC) Kejar Free Float 15%, Bidik Investor Strategis


Rabu, 16 September 2026 / 15:26 WIB
Bank JTrust Indonesia (BCIC) Kejar Free Float 15%, Bidik Investor Strategis
ILUSTRASI. J Trust Bank (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC) tengah mengakselerasi pemenuhan ketentuan minimum saham beredar di publik atau free float sebesar 15%.

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (16/9/2026), manajemen J Trust Bank menyampaikan bahwa porsi free float perusahaan telah meningkat secara bertahap. 

Per Oktober 2025, free float Bank JTrust tercatat sebesar 7,75%. Kemudian, berdasarkan pemantauan per 30 Juni 2026, porsinya meningkat menjadi 12,56%. Hingga akhir Agustus 2026, free float Bank JTrust kembali naik menjadi 13,74%.

Dengan demikian, perseroan masih perlu meningkatkan porsi saham publik sekitar 1,26% untuk mencapai batas minimum 15%.

Bank JTrust menyebut kondisi pasar menjadi salah satu kendala dalam memenuhi ketentuan tersebut. Fluktuasi pasar dan sentimen makroekonomi membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see terhadap sektor perbankan.

Baca Juga: Bank JTrust Perkuat Aksi Green Banking

"Hal ini menuntut Bank untuk menerapkan prinsip kehati-hatian ekstra dalam menentukan momentum serta valuasi (pricing) eksekusi pelepasan saham pada investor yang berminat," demikian tertulis, dikutip Rabu (16/9/2025).

Bank menilai momentum pelepasan saham perlu mempertimbangkan daya serap pasar agar aksi tersebut tak memicu penurunan harga saham yang dapat merugikan pemegang saham publik eksisting.

Selain kondisi pasar, Bank JTrust juga menyoroti potensi dilusi free float akibat aksi pemegang saham utama dalam memenuhi ketentuan permodalan bank.

Manajemen menjelaskan, kondisi tersebut pernah terjadi pada 2022 ketika Bank JTrust harus memenuhi ketentuan modal minimum Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar Rp 3 triliun. Pada saat itu, pemegang saham utama melakukan injeksi modal melalui Dana Setoran Modal (DSM).

Besarnya setoran modal dari grup tersebut untuk memenuhi ketentuan permodalan OJK tak  dapat diikuti oleh pemegang saham publik melalui pelaksanaan haknya dalam rights issue atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Alhasil, porsi kepemilikan publik mengalami dilusi.

Baca Juga: Tiga Direksi Bank JTrust Borong Saham Perusahaan, Segini Harganya

Ke depan, Bank JTrust menyatakan bakal terus menjaga momentum peningkatan free float melalui komunikasi dengan pelaku pasar dan calon investor strategis.

Bank juga akan mengintegrasikan skenario pemenuhan free float ke dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) 2027-2029. Langkah tersebut dilakukan agar pemenuhan aturan pasar modal tetap berjalan seiring dengan stabilitas dan kesehatan permodalan bank.

"Manajemen bersama dengan Pemegang Saham Pengendali senantiasa mencari investor strategis untuk bergabung sebagai pemegang saham baik secara langsung maupun melalui Right Issue (HMETD)," jelas manajemen.

Di sisi lain, Bank JTrust meminta fleksibilitas tenggat waktu kepada BEI. Manajemen menyebut aksi korporasi untuk memenuhi free float harus diselaraskan dengan kewajiban perbankan, termasuk pemenuhan persyaratan modal minimum dari OJK.

Bank JTrust juga menegaskan bahwa setiap rencana aksi korporasi lanjutan akan dilakukan dengan memenuhi seluruh prosedur dan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku.

Baca Juga: Bank JTrust Dorong Pertumbuhan Secara Prudent

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×