Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri perbankan semakin agresif mengadopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat layanan kepada nasabah, hingga memperkuat manajemen risiko.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, adopsi AI di sektor perbankan terus meningkat. Berdasarkan survei Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) bersama IBM, tingkat adopsi AI naik dari sekitar 30% pada 2024 menjadi 42% pada 2025, dan mencapai 57,9% pada kuartal I-2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, AI telah menjadi bagian penting dari transformasi digital industri perbankan dalam meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan pengalaman nasabah.
Menurut Dian, pemanfaatan AI kini berkembang ke berbagai fungsi, mulai dari knowledge management, chatbot berbasis large language model (LLM), predictive marketing, hingga personalized recommendation.
Baca Juga: Allianz Syariah Sebut Makin Banyaknya Asuransi Syariah akan Berdampak Positif
Implementasi tersebut bahkan mampu memangkas waktu penyelesaian layanan lebih dari 60% dan menghasilkan efisiensi biaya operasional hingga puluhan miliar rupiah setiap tahun.
Salah satu bank yang mulai memperluas implementasi AI adalah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN).
Direktur IT PT BTN Tan Jacky Chen mengatakan, perseroan telah mulai mengadopsi AI sebagai bagian dari transformasi digital perusahaan.
"BTN telah mulai mengadopsi Artificial Intelligence (AI) sebagai bagian dari transformasi digital perusahaan. Kami memandang AI bukan sekadar tren teknologi, tetapi sebagai enabler untuk meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah, produktivitas pegawai, efisiensi operasional, serta penguatan manajemen risiko," ujar Tan kepada Kontan.co.id, Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, implementasi AI di BTN dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, teknologi tersebut difokuskan untuk meningkatkan performa dan efisiensi operasional internal sebelum diperluas ke area yang memberikan dampak langsung terhadap bisnis maupun nasabah.
Baca Juga: Bank Berebut Dana Nasabah Kaya, Layanan Wealth Management Kian Agresif
"Ke depan, pemanfaatan AI akan terus diperluas dengan tetap mengedepankan tata kelola yang baik, keamanan informasi, perlindungan data pribadi, serta kepatuhan terhadap ketentuan regulator," katanya.
Saat ini AI telah diterapkan BTN pada berbagai lini operasional. Di sisi layanan nasabah, teknologi tersebut digunakan pada proses digital onboarding aplikasi Bale by BTN melalui teknologi optical character recognition (OCR), face recognition, dan liveness detection untuk mendukung proses electronic Know Your Customer (e-KYC).
Teknologi tersebut memungkinkan proses verifikasi identitas dilakukan lebih cepat, akurat, dan aman sehingga mempercepat pembukaan rekening secara digital.
Sementara di sisi operasional, BTN memanfaatkan AI untuk knowledge management agar pegawai lebih mudah mengakses kebijakan, prosedur, dan dokumentasi internal. Perseroan juga tengah mengembangkan Intelligent Document Processing (IDP) berbasis AI dan OCR guna mengotomatisasi pembacaan serta verifikasi dokumen kredit.
"Dengan implementasi tersebut diharapkan turn around time (TAT) proses persetujuan kredit menjadi lebih cepat," ujarnya.
Tak hanya itu, AI juga dimanfaatkan BTN untuk mendukung analisis data dan memperkuat manajemen risiko, termasuk mendeteksi anomali transaksi sebagai bagian dari upaya pencegahan fraud.
"Secara keseluruhan, implementasi AI membantu BTN meningkatkan produktivitas, mengurangi proses manual, mempercepat layanan, meningkatkan akurasi, serta memberikan pengalaman yang lebih baik bagi nasabah," kata Tan.
Untuk menjaga keamanan transaksi, BTN tetap menerapkan prinsip Know Your Customer (KYC) sesuai ketentuan regulator melalui proses verifikasi identitas, validasi data, dan pemantauan transaksi secara berkelanjutan.
Perseroan juga menerapkan sistem keamanan berlapis (multi-layered security controls) yang mencakup aspek sumber daya manusia, proses, dan teknologi, didukung digital verification, cybersecurity monitoring, serta pengamanan data berdasarkan prinsip Confidentiality, Integrity, dan Availability.
"AI juga membantu mendeteksi anomali, potensi fraud, dan ancaman siber secara lebih dini sehingga risiko dapat diminimalkan serta keamanan data dan transaksi nasabah tetap terjaga," tambahnya.
Langkah serupa juga ditempuh PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). SEVP IT Development & Operations BSI Saut Parulian Saragih mengatakan, penggunaan AI di BSI sudah diterapkan pada berbagai use case yang memberikan dampak langsung terhadap produktivitas bisnis.
Menurutnya, implementasi paling sederhana dilakukan pada sistem knowledge management yang membantu pegawai memperoleh informasi mengenai produk, kebijakan internal, hingga prosedur kerja secara lebih cepat.
Selain itu, AI juga dimanfaatkan untuk meningkatkan penjualan produk perbankan.
"Kami sudah mulai proof of concept dan meng-engage partner. AI untuk boosting jualan sudah menghasilkan beberapa ribu rekening baru," ujar Saut.
Di sisi layanan digital, BSI menggunakan teknologi AI pada proses online onboarding melalui fitur face recognition. Teknologi tersebut mampu mengenali identitas nasabah sekaligus mendeteksi apabila proses verifikasi menggunakan foto, gambar, maupun rekaman yang berpotensi disalahgunakan.
"Di belakang face recognition itu sebetulnya adalah teknologi AI yang cukup mumpuni, di mana sistem bisa mengenali kalau orang di depan bukan orang nyata atau menggunakan gambar maupun replay," jelasnya.
BSI juga memanfaatkan AI dalam sistem deteksi fraud. Teknologi tersebut mampu mengenali pola transaksi yang tidak wajar, misalnya transaksi kecil yang dilakukan berulang dalam waktu singkat, sehingga potensi penyalahgunaan rekening dapat dideteksi lebih cepat.
Selain itu, AI dimanfaatkan untuk membantu relationship manager menawarkan produk yang paling sesuai bagi setiap nasabah melalui sistem next product to offer.
"Mesinnya mengenali karakteristik nasabah, sehingga bisa memberikan rekomendasi produk apa yang paling tepat untuk ditawarkan," katanya.
Ke depan, BSI juga tengah mengeksplorasi pemanfaatan Generative AI untuk mempercepat proses pengembangan aplikasi. Dengan teknologi tersebut, proses penyusunan kode (coding) diperkirakan dapat berlangsung lebih cepat sehingga peluncuran fitur digital baru menjadi lebih singkat.
Sebelumnya, Citibank N.A. Indonesia (Citi Indonesia) juga telah meluncurkan kemampuan AI dalam operasionalnya. Perseroan menghadirkan dua perangkat utama, yakni Citi Stylus Workspaces dan Citi Assist.
CEO Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan, penggunaan AI menjadi bagian dari strategi perseroan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat layanan kepada nasabah.
"Citi Indonesia memelopori era baru perbankan dengan menjadi salah satu bank pertama di Indonesia yang memanfaatkan kekuatan AI untuk memodernisasi cara kami beroperasi," ujar Batara.
Melalui Citi Stylus Workspaces, AI digunakan untuk membantu pemrosesan dokumen, peringkasan informasi, hingga pencarian informasi berbasis conversational AI. Sementara Citi Assist berfungsi membantu karyawan mencari kebijakan dan prosedur internal secara cepat sehingga meningkatkan kepatuhan sekaligus meminimalkan risiko operasional.
Batara menilai pemanfaatan AI akan membantu karyawan memberikan layanan yang lebih cepat dan presisi kepada nasabah, sekaligus membuka peluang pertumbuhan bisnis baru di tengah transformasi digital industri perbankan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














