Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Persaingan memperebutkan dana nasabah kaya atau high net worth individual (HNWI) semakin ketat.
Sejumlah bank memperkuat layanan wealth management dan private banking untuk meningkatkan aset kelolaan (assets under management/AUM) sekaligus menghimpun dana pihak ketiga (DPK) dari segmen affluent yang terus berkembang.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan, total nominal simpanan di bank umum pada Mei 2026 mencapai Rp 10.330 triliun atau tumbuh 2,20% secara bulanan. Porsi terbesar berasal dari kelompok simpanan di atas Rp 5 miliar yang menguasai 58,34% dari total simpanan perbankan.
Tak hanya mendominasi secara nominal, kelompok simpanan tersebut juga mencatat pertumbuhan paling tinggi. Secara bulanan, nominal simpanan di atas Rp 5 miliar meningkat 4,01%, menunjukkan likuiditas dari segmen nasabah kaya masih terus bertambah.
Melihat potensi tersebut, sejumlah bank berlomba memperkuat layanan wealth management dengan menghadirkan layanan yang lebih personal, mulai dari advisory investasi, perencanaan keuangan hingga pengelolaan warisan.
Baca Juga: Bank Syariah Indonesia (BSI) Targetkaan Naik Jadi Bank KBMI 4 Sebelum 2030
Salah satunya dilakukan PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC). Perseroan mencatat aset kelolaan (AUM) bisnis wealth management tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sekitar 29% sepanjang 2022–2025. Ke depan, pertumbuhan tersebut akan didorong melalui penguatan layanan wealth advisory dan akuisisi nasabah affluent.
Wealth Management Advisory Head OCBC Diamond Stole mengatakan, kebutuhan nasabah kaya kini telah berubah. Mereka tidak lagi hanya mengejar imbal hasil investasi, tetapi juga membutuhkan pendampingan yang lebih menyeluruh dalam mengelola kekayaan.
"Kami melihat kebutuhan wealth management semakin berkembang. Nasabah ingin mengetahui posisi portofolionya, memahami pilihan investasi yang tersedia, hingga memperoleh panduan agar tujuan keuangannya dapat tercapai," ujar Diamond di Jakarta, Selasa (30/6).
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, OCBC menghadirkan layanan Wealth Discovery dan Wealth Report. Melalui layanan ini, nasabah dapat memantau perkembangan portofolio investasi, komposisi aset, eksposur mata uang, hingga nilai kekayaan bersih secara lebih komprehensif.
Menurut Diamond, laporan tersebut menjadi salah satu pembeda layanan wealth management OCBC karena tidak hanya menampilkan posisi aset pada satu waktu, tetapi juga perkembangan historis portofolio sehingga memudahkan nasabah mengevaluasi hasil investasinya.
"Kami ingin nasabah bisa melihat apakah perjalanan investasinya masih sesuai dengan tujuan awal atau perlu dilakukan penyesuaian portofolio," katanya.
OCBC juga melihat fokus kebutuhan nasabah affluent mulai bergeser. Jika sebelumnya lebih banyak menitikberatkan pada akumulasi aset, kini semakin banyak nasabah yang mulai memikirkan perlindungan aset (wealth preservation) hingga perencanaan warisan (wealth transfer).
"Kami melihat tahapan wealth management semakin cepat. Pembahasan tidak lagi hanya soal akumulasi aset, tetapi juga sudah masuk ke wealth preservation hingga wealth transfer," ujar Diamond.
Baca Juga: Threshold Valas Tanpa Underlying Turun Lagi, Industri Antisipasi Dampaknya
Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, OCBC justru menilai kebutuhan terhadap layanan wealth advisory semakin tinggi.
"Volatilitas pasar akan selalu ada. Yang terpenting adalah bagaimana portofolio investasi terus disesuaikan dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing nasabah," imbuhnya.
BTN bidik pertumbuhan dana affluent di atas 20%
Strategi serupa dijalankan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN). Perseroan terus memperkuat layanan bagi nasabah affluent melalui BTN Prioritas dan BTN Private.
Head of Retail Funding Division BTN Frengky Rosadrian mengatakan, fokus BTN tidak hanya menghimpun dana masyarakat, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang dengan nasabah melalui layanan yang lebih personal.
"Kami tidak ingin sekadar menghimpun dana, tetapi membangun hubungan jangka panjang. Fokus kami memperkuat layanan BTN Prioritas dan BTN Private dengan pendekatan yang lebih personal, mulai dari pendampingan relationship manager, produk wealth management yang lebih lengkap, hingga pengalaman layanan premium," ujar Frengky.
BTN juga memanfaatkan kekuatan ekosistem bisnis properti sebagai nilai tambah untuk menarik nasabah affluent.
Menurut Frengky, dana kelolaan dari segmen nasabah kaya kini telah berkontribusi lebih dari 40% terhadap total dana nasabah BTN.
"Porsi ini cukup signifikan dan menunjukkan bahwa segmen ini menjadi salah satu pilar penting dalam struktur pendanaan BTN, sekaligus ruang yang masih sangat terbuka untuk kami tumbuhkan lebih jauh," katanya.
Hingga akhir 2026, BTN menargetkan pertumbuhan dana dari segmen affluent di atas 20%.
"Kami fokus pada pertumbuhan berkualitas yang berkelanjutan dengan tetap menjaga komitmen menjadikan BTN sebagai rumah yang nyaman bagi nasabah dalam mengelola dan menumbuhkan kekayaannya," ujar Frengky.
Per Mei 2026, total dana pihak ketiga (DPK) konsolidasi BTN tercatat mencapai Rp 433,95 triliun atau meningkat 9,09% secara tahunan dibandingkan Rp 397,78 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Pendapatan Premi Unitlink Prudential Indonesia Tumbuh 5% pada Kuartal I-2026
BCA perkuat layanan hybrid banking
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga mencatat pertumbuhan positif pada segmen nasabah kaya.
Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, hingga Maret 2026 jumlah rekening dengan saldo di atas Rp 5 miliar meningkat 14% secara tahunan. Nilai simpanan pada kelompok tersebut juga tumbuh 17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara keseluruhan, DPK BCA meningkat 8,3% secara tahunan menjadi Rp 1.292,4 triliun per Maret 2026. Dana murah atau current account saving account (CASA) masih mendominasi dengan kontribusi 85,2% terhadap total DPK atau mencapai Rp 1.089 triliun, tumbuh 11,2% secara tahunan.
"Dari segi komposisi, pertumbuhan simpanan nasabah di BCA terjadi pada berbagai instrumen, terutama giro dan tabungan. Hal ini sejalan dengan dinamika suku bunga dan menjadi bagian dari strategi diversifikasi portofolio nasabah," ujar Hera.
Ke depan, BCA akan terus memperkuat layanan wealth management melalui penyediaan solusi investasi yang lebih komprehensif, pendekatan relationship banking, serta konsep hybrid banking yang mengintegrasikan layanan digital dengan jaringan kantor cabang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














