Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Mega Tbk (MEGA) mencatat kinerja yang positif di sepanjang tahun 2025. Dengan meningkatnya kinerja ini, Bank Mega berhasil masuk ke jajaran bank Indonesia dengan perolehan laba terbesar.
Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib menyebut, pada tahun 2025 Bank Mega memperoleh laba bersih sebesar Rp 3,36 triliun atau meningkat 28% secara tahunan (yoy).
Menurut Kostaman, perolehan laba ini salah satunya ditopang oleh fee based income yang naik 54% (yoy) menjadi Rp 2,79 triliun. Pencapaian laba ini menempatkan Bank Mega ke dalam peringkat 10 besar bank Indonesia dengan laba tertinggi.
Baca Juga: Impairment Turun, Begini Strategi BTN Antisipasi Risiko Ketidakpastian
"Dari sisi aset, Bank Mega ada di posisi nomor 19. Tetapi kalau dari sisi laba bersih, Bank Mega berada di posisi nomor 10 dari seluruh bank yang ada di Indonesia," kata Kostaman dalam acara paparan kinerja Bank Mega, Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Adapun total aset Bank Mega di akhir 2025 lalu sebesar Rp140,83 triliun, meningkat 4% dibanding laporan pada tahun sebelumnya.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit Bank Mega sampai akhir 2025 tercatat sebesar Rp 67,23 triliun atau tumbuh 4% (yoy). Pertumbuhan ini dibarengi dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang membaik menjadi 1,65%.
Kostaman menyebut penyaluran kredit Bank Mega di tahun 2025 tetap berfokus di segmen korporasi seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Komposisi kredit terdiri dari corporate 69%, joint financing 17%, credit card 10%, retail dan komersial 4%. Dengan titik berat masih berada di kredit korporasi," jelas Kostaman.
Selain itu, pertumbuhan juga terlihat di dana pihak ketiga (DPK) yang menjadi Rp 104,13 triliun di akhir 2025, meningkat 14% (yoy). Komposisi DPK terdiri dari giro sebesar 12%, tabungan sebesar 15%, dan deposito sebesar 73%.
Baca Juga: Undisbursed Loan Perbankan Masih Tinggi, Pertumbuhan Kredit Sektor Riil Belum Terasa
Rasio-rasio keuangan lain juga tetap dijaga. Rasio permodalan (CAR) berada di level 30,49%, meningkat dari tahun sebelumnya di level 25,77%. Loan to Deposit Ratio (LDR) dijaga pada kisaran 70%. Biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) juga membaik dari 73,61% menjadi 64,48% di akhir 2025.
Akan tetapi, pendapatan bunga bersih (NIM) sedikit tertekan dari 4,64% turun menjadi 4,18% di akhir 2025. Return on Assets (ROA) tercatat sebesar 3,10%, sedangkan Return on Equity (ROE) sebesar 15,54%.
Untuk tahun 2026, Kostaman menyebut strategi banknya adalah menjaga likuiditas dengan mendorong pertumbuhan dana murah. Bank Mega juga akan meningkatkan volume kredit wholesalenya dengan keikutsertaan dalam sindikasi.
Bank Mega juga akan mengakselerasi pertumbuhan kreditnya dengan berfokus pada nasabah berkualitas. Seluruh kantor cabang juga diperkuat untuk memberi pelayanan yang optimal. Di samping itu, Bank Mega akan mengontrol biaya overhead dengan memperkuat digitalisasi.
Baca Juga: Kredit Konsumsi Melambat, Daya Beli Tertekan
Kostaman juga mengungkap target Bank Mega untuk tahun 2026 ini. Bank Mega menargetkan pertumbuhan laba bersih sebesar 8%-9%, pertumbuhan aset sebesar 5%-6%, penyaluran kredit sebesar 10%-11%, dan DPK sebesar 6%-7%.
"Untuk kinerja bank tahun 2026, laba bersih diproyeksikan menjadi Rp 3,7 triliun. Aset diproyeksikan naik menjadi Rp 149 triliun. Kredit juga diproyeksikan naik menjadi Rp 74 triliun. Dana pihak ketiga menjadi Rp 111 triliun," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












