kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.827.000   -10.000   -0,35%
  • USD/IDR 17.049   32,00   0,19%
  • IDX 7.048   -43,45   -0,61%
  • KOMPAS100 972   -4,90   -0,50%
  • LQ45 716   -1,68   -0,23%
  • ISSI 251   -1,25   -0,50%
  • IDX30 389   -0,10   -0,03%
  • IDXHIDIV20 487   -1,85   -0,38%
  • IDX80 110   -0,59   -0,54%
  • IDXV30 135   -0,95   -0,70%
  • IDXQ30 127   0,03   0,02%

Kredit Konsumsi Melambat, Daya Beli Tertekan


Selasa, 31 Maret 2026 / 20:43 WIB
Kredit Konsumsi Melambat, Daya Beli Tertekan
ILUSTRASI. Kawasan perkantoran di Jakarta (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan kredit konsumsi menunjukkan tren perlambatan pada awal 2026, seiring tekanan terhadap daya beli masyarakat dan masih tingginya suku bunga.

Data sementara Bank Indonesia (BI) mencatat, pertumbuhan kredit industri per Februari 2026 melambat menjadi 8,9% secara tahunan (year-on-year/yoy), turun dari 10,2% yoy pada bulan sebelumnya. Sejalan dengan itu, kredit konsumsi juga tumbuh lebih landai, yakni 6,3% yoy dari sebelumnya 7,2% yoy.

Secara rinci, perlambatan terjadi pada sejumlah segmen. Kredit pemilikan rumah (KPR) tumbuh 5% yoy, melambat dari 5,5% yoy. Kredit multiguna turun menjadi 8,7% yoy dari 9,9% yoy, sementara kredit kendaraan bermotor (KKB) mencatatkan perlambatan dengan pertumbuhan 7,9% yoy dari sebelumnya 6,7% yoy.

Ekonom Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai perlambatan kredit konsumsi menjadi sinyal kuat melemahnya daya beli masyarakat. Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi kombinasi tekanan biaya hidup yang meningkat dan terbatasnya penciptaan lapangan kerja baru.

Baca Juga: DPK Rumah Tangga BTN Tumbuh, Transaksi Digital Jadi Andalan Dongkrak Simpanan

“Fenomena ini juga terkait pergeseran tenaga kerja dari sektor formal ke informal serta melemahnya sektor manufaktur, yang mengarah pada gejala deindustrialisasi prematur,” ujarnya kepada Kontan, Senin (30/3/2026).

Di sisi lain, kebijakan moneter yang masih ketat turut menahan laju kredit. Suku bunga acuan yang berada di level 4,75% mendorong perbankan menyesuaikan bunga kredit konsumsi, terutama pada kredit tanpa agunan (KTA) dan KKB.

Kondisi tersebut membuat calon debitur cenderung menunda pengajuan kredit baru karena beban cicilan yang semakin berat. Dampaknya, nilai kredit yang belum dicairkan (undisbursed loan) meningkat hingga melebihi Rp 2.500 triliun.

Rahma juga menyoroti tekanan eksternal berupa kenaikan harga minyak mentah global yang sempat menembus US$ 100 per barel. Hal ini memicu imported inflation yang menggerus pendapatan riil masyarakat.

Akibatnya, masyarakat kini lebih memprioritaskan kebutuhan pokok dan energi dibandingkan mengambil kredit untuk barang konsumsi tahan lama.

Lebih lanjut, ia mengamati adanya perubahan perilaku pada kelompok menengah bawah. Sebagian masyarakat mulai menggunakan tabungan untuk konsumsi harian, bahkan beralih ke pinjaman online dan skema paylater, sehingga kapasitas untuk mengambil kredit baru semakin terbatas.

“Belanja saat Lebaran pun lebih banyak terjadi di sektor ritel seperti makanan dan pakaian, yang umumnya dilakukan secara tunai atau dari tabungan, bukan melalui kredit jangka panjang,” jelasnya.

Secara teoretis, perlambatan kredit konsumsi di tengah momentum musiman seperti Lebaran mengindikasikan masyarakat cenderung menahan konsumsi, bahkan kehilangan bantalan keuangan (buffer).

Menurut Rahma, tekanan inflasi pangan dan energi membuat sisa pendapatan rumah tangga semakin terbatas, sehingga ruang untuk mencicil barang sekunder seperti kendaraan atau elektronik makin menyempit.

Ke depan, ia memperkirakan kredit konsumsi berpotensi terus melambat hingga single digit apabila tekanan inflasi energi dan ketidakpastian global masih berlanjut hingga semester II-2026.

Dalam kondisi tersebut, perbankan diperkirakan akan lebih berhati-hati dengan memprioritaskan manajemen risiko dibandingkan ekspansi kredit.

“Ketidakpastian global, termasuk risiko geopolitik, juga membuat bank dan masyarakat sama-sama cenderung wait and see,” pungkasnya.

Baca Juga: CIMB Niaga Catat Pertumbuhan Laba 45% pada Februari 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×