kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.827.000   -10.000   -0,35%
  • USD/IDR 17.049   32,00   0,19%
  • IDX 7.048   -43,45   -0,61%
  • KOMPAS100 972   -4,90   -0,50%
  • LQ45 716   -1,68   -0,23%
  • ISSI 251   -1,25   -0,50%
  • IDX30 389   -0,10   -0,03%
  • IDXHIDIV20 487   -1,85   -0,38%
  • IDX80 110   -0,59   -0,54%
  • IDXV30 135   -0,95   -0,70%
  • IDXQ30 127   0,03   0,02%

Undisbursed Loan Perbankan Masih Tinggi, Pertumbuhan Kredit Sektor Riil Belum Terasa


Selasa, 31 Maret 2026 / 20:45 WIB
Undisbursed Loan Perbankan Masih Tinggi, Pertumbuhan Kredit Sektor Riil Belum Terasa
ILUSTRASI. Gedung Bank Mandiri (DOK/Mandiri)


Reporter: Ammar Rezqianto, Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyaluran kredit yang dicatatkan perbankan belum sepenuhnya mengalir ke sektor ril. Hal ini tercermin dari tingginya angka fasilitas pinjaman yang belum digunakan alias undisbursed loan.

Hingga Februari 2026, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit melambat menjadi 9,37% secara tahunan (year-on-year/yoy), ketimbang pertumbuhan 9,96% yoy pada bulan sebelumnya. Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi masih tumbuh kencang 20,72% yoy dalam periode ini. 

Namun, seiring dengan itu, nilai undisbursed loan (kredit menganggur) industri juga masih terbilang besar mencapai Rp 2.536 triliun atau setara 22,86% dari plafon kredit yang tersedia. 

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman menilai kondisi ini menunjukkan bahwa ekspansi komitmen kredit tak berjalan selaras dengan realisasi investasi riil. 

“Ini mengindikasi fungsi intermediasi belum sepenuhnya efektif,” kata Rizal kepada Kontan, Selasa (31/3/2026). 

Baca Juga: Undisbursed Loan Tinggi, Perbankan Optimistis Kredit Tetap Tumbuh Positif 2026

Kondisi ini bisa dibaca begini: ekspansi kredit saat ini cenderung membangun pipeline alih-alih mendorong aktivitas ekonomi langsung. Pasalnya, perbankan tetap menjaga pertumbuhan melalui komitmen pembiayaan, tetapi keputusan investasi di level korporasi masih bersifat wait and see lantaran ekspektasi bisnis belum solid. 

Rizal bilang tekanan eksternal seperti volatilitas rupiah dan kenaikan yield turut meningkatkan biaya peluang investasi dan mendorong kecenderungan penundaan. Dalam konteks ini, menurutnya undisbursed loan menjadi indikator awal bahwa dunia usaha masih menahan ekspansi, bukan karena keterbatasan pembiayaan, tetapi karena tingginya ketidakpastian.

Rizal melihat porsi undisbursed loan masih bakal tinggi dalam jangka pendek, jika faktor ketidakpastian belum mereda. Namun di sisi lain, kondisi ini juga menyimpan potensi akselerasi karena fasilitas yang sudah tersedia dapat segera dikonversi menjadi investasi ketika kondisi membaik. 

Perbankan Dapat Dorong Fleksibilitas Skema agar Utilisasi Maksimal

Dalam kondisi ini, Rizal bilang perbankan perlu lebih menekankan kualitas penyaluran, pengelolaan likuiditas, dan fleksibilitas skema pembiayaan agar utilisasi kredit meningkat. 

“Kunci utamanya adalah memastikan bahwa pipeline kredit yang besar benar-benar dapat ditransformasikan menjadi aktivitas ekonomi riil, bukan sekadar akumulasi komitmen di neraca,” tegasnya. 

Baca Juga: OJK Perkirakan Undisbursed Loan Perbankan Bakal Melandai, Ini Pendorongnya

Jika menengok laporan bulanan hingga Februari 2026, berbagai bank memang terpantau mencatatkan pertumbuhan undisbursed loan yang terbilang masif. 

Di Bank Mandiri jumlahnya mencapai Rp 303,67 triliun atau naik 17,84% yoy, Bank Negara Indonesia (BNI) mencapai Rp 87,3 triliun atau tumbuh 51,5% yoy, dan di Bank Central Asia (BCA) sebesar Rp 470,38 triliun atau naik 9,98% yoy. 

Menanggapi ini, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn bilang pada dasarnya tren kredit, termasuk undisbursed loan, sejalan dengan kondisi perekonomian. 

Kendati begitu, catatan pertumbuhan kredit BCA yang masih berhasil tumbuh 5,83% yoy menjadi Rp 953,22 triliun per Februari 2026 menunjukkan kemampuan bank menjaga tren penyaluran kredit. 

Selain itu dengan kondisi undisbursed loan saat ini, Hera memastikan pihaknya melakukan manajemen secara pruden. 

“Ditopang likuiditas yang memadai, BCA berkomitmen menyalurkan kredit yang berkualitas ke berbagai segmen dan sektor secara pruden, sekaligus mempertimbangkan prinsip-prinsip kehati-hatian dengan penerapan manajemen risiko disiplin,” jelasnya. 

Baca Juga: OJK: Pertumbuhan Undisbursed Loan Perbankan Akan Melambat

Di Bank Mega, per Februari 2026 total kewajiban komitmen fasilitas kredit yang belum ditarik mencapai Rp 32,45 triliun, setara 51% dari total kredit yang disalurkan bank dalam periode ini. Direktur Wholesale Banking Bank Mega, Madi Darmadi Lazuardi bilang kondisi ini terkait timeline proyek-proyek nasabah korporasi yang berjalan bertahap. 

Ia menjelaskan, tahun lalu bank memang banyak memberikan limit kredit kepada proyek-proyek yang saat ini masih berlangsung. “Artinya pencairannya bertahap sesuai dengan progres dari pembangunan,” ujar Madi. 

Madi mengatakan komitmen kredit yang diteken sebagai modal kerja porsinya cukup banyak, yang mana penggunaannya sesuai kebutuhan nasabah dan tak bisa dikontrol oleh bank. 

Baca Juga: Permintaan Kredit Lesu, Panin Bank Tekan Undisbursed Loan Jadi Rp 37,95 Triliun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×