Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) terus mencermati dinamika makroekonomi global maupun domestik, termasuk dampak eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah terhadap perekonomian.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, bank tetap fokus pada penguatan fundamental bisnis serta menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menghadapi berbagai ketidakpastian global.
“BCA senantiasa mencermati dinamika makroekonomi, baik domestik maupun global, termasuk dampak eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah. Kami tetap berfokus pada fundamental bisnis perseroan dan mengambil langkah yang pruden dalam menghadapi dinamika saat ini,” ujar Hera kepada Kontan, Rabu (4/3/2026).
Ia menambahkan, BCA juga menjaga posisi permodalan dan likuiditas tetap kuat guna menghadapi potensi ketidakpastian ekonomi global.
Baca Juga: Danamon (BDMN) Usulkan Nobuya Kawasaki Jadi Dirut, Tiga Pengurus Akan Mundur
Dari sisi manajemen risiko kredit, BCA terus melakukan pemantauan terhadap konsentrasi kredit, termasuk penggunaan limit kredit serta kualitas portofolio pembiayaan.
Selain itu, bank swasta terbesar di Indonesia ini juga menjaga komunikasi dan koordinasi dengan debitur yang diperkirakan terdampak kondisi ekonomi.
Evaluasi terhadap sektor industri juga terus dilakukan dengan mempertimbangkan prospek usaha dan kinerja debitur, termasuk penyesuaian limit pembiayaan pada sektor tertentu yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi.
BCA juga menerapkan sistem peringatan dini atau early warning system untuk mendeteksi potensi debitur bermasalah sehingga langkah mitigasi dapat segera dilakukan guna meminimalkan risiko kredit bermasalah.
Di luar itu, BCA juga telah menyiapkan pencadangan yang solid. Hingga akhir 2025 rasio pencadangan kredit BCA masih berada pada level yang kuat. Pencadangan untuk loan at risk (LAR) tercatat sebesar 71,6%, sementara pencadangan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) mencapai 183,8%.
“Level pencadangan ini berada pada posisi yang memadai untuk menghadapi ketidakpastian kondisi ekonomi dan bisnis debitur,” pungkas Hera.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













