kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

BI: Dana bank untuk infrastruktur 2018 aman


Minggu, 17 September 2017 / 12:08 WIB


Reporter: Galvan Yudistira | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - Bank Indonesia (BI) optimis likuiditas perbankan untuk pembangunan infrastruktur pada tahun 2018 masih akan cukup.

Hal ini menjawab kekhawatiran beberapa analis dan ekonom yang memproyeksi pada tahun depan, pembangunan infrastruktur akan banyak menyedot likuiditas perbankan.

Mirza Adityaswara Deputi Gubernur Senior BI bilang pembangunan infrastruktur, banyak dibangun oleh investor asing yang sumbernya dari kredit luar negeri.

"Sehingga efeknya tidak terlalu berdampak ke likuiditas perbankan," kata Mirza kepada KONTAN di Jakarta, Jumat (15/9).

Senada, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga optimis likuiditas perbankan tahun depan akan cukup untuk keperluan kredit infrastruktur.

Halim Alamsyah, Ketua Dewan Komisioner LPS bilang, hasil evaluasi terhadap likuiditas perbankan tiga bulan kedepan masih dalam posisi memadai.

"Memang ada kekhawatiran beberapa pihak terkait tersedotnya likuiditas perbankan terutama simpanan dan DPK (dana pihak ketiga), untuk kredit infrastruktur," kata Halim, Kamis (14/9).

Namun, menurut Halim beberapa bank sudah menyiapkan beberapa alternatif pendanaan berupa surat utang dan instrumen investasi jangka panjang lain untuk membantu pendanaan kredit infrastruktur.

Selain itu menurut Halim, sebenarnya dana likuiditas bank yang disimpan di BI masih cukup besar yaitu mencapai Rp 200 miliar sampai Rp 400 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×