kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   -65.000   -2,22%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

BI siapkan nomor identitas tunggal nasabah


Selasa, 28 September 2010 / 09:13 WIB


Reporter: Hari Widowati | Editor: Uji Agung Santosa

JIMBARAN. Bank Indonesia (BI) diam-diam menggarap program Financial Identity Number (FIN). Nomor identifikasi tunggal yang unik bagi nasabah perbankan ini bakal berfungsi seperti rapor yang berisi data dan riwayat kredit nasabah.

FIN bakal bisa diakses perbankan dan penyedia jasa keuangan melalui sistem biro kredit tersentralisasi. Dus, masyarakat yang tadinya belum memiliki akses terhadap jasa keuangan bisa mendapatkan layanan keuangan. "Ini program kami, bukan sekadar kajian karena kami sudah punya model dari saat kami meluncurkan TabunganKu," jelas Gubernur BI Darmin Nasution di sela-sela The 2010 AFI Global Policy Forum di Jimbaran, Bali, Senin (27/9).

Menurutnya, masyarakat miskin yang produktif akan didata ke dalam FIN ini. Ia mengaku, BI mengambil inisiatif program FIN ini karena Indonesia belum memiliki Single Identity Number (SIN). "Kalau di negara maju, nomor identitas keuangan tunggal mungkin tampak tumpang tindih dengan nomor jaminan sosial. Tetapi, mudah-mudahan SIN nanti justru memperkaya FIN," ujar Darmin.

Deputi Gubernur BI Muliaman D. Hadad mengatakan, FIN merupakan proyek besar yang akan digarap secara bertahap. Salah satu rintisan program FIN adalah program Indonesia Menabung yang meluncur beberapa waktu lalu.

Awal tahun 2011 BI ingin menyebar gerakan ini ke daerah. "Sekarang ada 500.000 rekening TabunganKu dengan nilai Rp 480 miliar per Agustus 2010. Target kami, awal 2011 bisa menjadi satu juta rekening," tutur Muliaman.

TabunganKu bisa menjadi semacam agunan bagi masyarakat miskin yang produktif. Dus, mereka juga bisa mendapatkan kredit dari perbankan. Yang tidak kalah penting, dalam program FIN ini terdapat unsur edukasi. Alhasil, dengan pemahaman masyarakat yang lebih baik terhadap produk perbankan, stabilitas keuangan bakal lebih baik.

Tapi, BI tidak akan memaksa bank ikut program itu. "Bank bisa melihat karena di situ ada profit," ujar Muliaman. Program ini melibatkan partisipasi swasta dan publik.

Proyek percontohan

Ketua Tim International Banking and Macroprudential Sureveillance Pungky Wibowo mengatakan, BI telah melakukan ujicoba program FIN di Banyumas, Maret lalu. "Sekarang meluas ke sembilan kabupaten, antara lain tiga di Madura, tiga di Jawa Timur, dua di Jawa Tengah, dan satu di Jawa Barat," ucapnya.

BI memulai survei tersebut kepada para pedagang di pasar-pasar, kelompok arisan, hingga kelompok kegiatan keagamaan. "Sudah ada 4.000 orang yang didata dan itu valid," lanjut Pungky. Dia menambahkan, FIN akan menggantikan peranan jaminan untuk kredit mikro.

BI juga melihat kemampuan si calon nasabah untuk mengembalikan pinjaman. Wajar jika nilai pinjaman yang diberikan pun tidak besar. "Sejatinya, FIN ini memungkinkan bank menyalurkan kredit mikro seperti Kredit Usaha Rakyat tetapi lebih secure," imbuh Pungky.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×