kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Biaya Kredit Sejumlah Bank Besar Menyusut di Kuartal I-2026, Ini Pendorongnya


Selasa, 05 Mei 2026 / 19:16 WIB
Biaya Kredit Sejumlah Bank Besar Menyusut di Kuartal I-2026, Ini Pendorongnya
ILUSTRASI. Ilustrasi Biaya Kendaraan (KONTAN/Muradi)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Biaya kredit atau cost of credit (CoC) sejumlah bank besar tercatat mengalami tren penurunan pada kuartal I-2026. Penurunan ini dinilai mencerminkan perbaikan kualitas aset serta kondisi likuiditas yang semakin longgar.

PT Bank Mandiri (BMRI) misalnya, mencatat penurunan CoC dari 0,71% di kuartal I-2025 ke level 0,48% pada kuartal  I-2026. Kemudian PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun dari 3,5% ke 3,2%, PT Bank Tabungan Negara (BBTN) turun dari 1,1% ke 0,9%.

Namun terlihat masih ada beberapa bank besar yang mencatatkan peningkatan biaya kredit, seperti PT Bank Central Asia (BBCA) naik ke 0,6% dari 0,5% di kuartal I-2025. Selain itu, PT Bank Negara Indonesia (BBNI) yang naik dari 0,9% di kuartal I-2025 ke 1,1% di kuartal I-2026.

Baca Juga: Aset Asuransi Komersial Tumbuh 5,64% per Maret 2026, Capai Rp 977,53 Triliun

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menjelaskan terdapat sejumlah faktor utama yang mendorong turunnya CoC di awal tahun ini.

Pertama, adanya injeksi likuiditas pemerintah yang mencapai sekitar Rp 201 triliun dan direncanakan bertambah Rp100 triliun hingga September 2026. Kedua, penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 125 basis poin sepanjang tahun lalu, serta kebijakan insentif makroprudensial.

Selain itu, penurunan Loan at Risk (LAR) juga menjadi faktor penting. LAR merupakan indikator risiko kredit yang lebih luas karena mencakup kredit bermasalah (NPL), kredit restrukturisasi, hingga kredit dalam pengawasan.

“LAR yang turun menunjukkan portofolio kredit semakin sehat, sehingga kebutuhan pencadangan (provisioning) menjadi lebih rendah,” ujar Myrdal kepada Kontan, Selasa (5/5/2026).

Ia menambahkan, kualitas aset industri perbankan juga terus membaik. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross tercatat stabil di kisaran 2,1%–2,2%, dengan coverage ratio tetap tinggi, bahkan di atas 200% pada sejumlah bank besar.

Faktor lain yang turut menopang penurunan CoC antara lain aksi recovery dan write-off yang lebih agresif terhadap portofolio lama, strategi penyaluran kredit yang lebih selektif ke sektor produktif, serta pertumbuhan ekonomi domestik yang solid di kisaran 5,6% yang mendukung kemampuan bayar debitur.

Meski demikian, Myrdal menilai tren penurunan CoC ke depan akan berlangsung secara bertahap dan cenderung stabil.

“Perbaikan CoC kemungkinan berlanjut, tetapi tidak drastis. Levelnya akan tetap rendah dan sehat sepanjang 2026,” jelasnya.

Baca Juga: Bank Neo Commerce (BBYB) Putuskan Tak Bagi Dividen Tahun 2025, Ini Alasannya

Optimisme tersebut didukung oleh kondisi likuiditas yang masih terjaga, suku bunga acuan yang stabil di level 4,75%, serta permodalan bank besar yang kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) di atas 25%.

Namun demikian, ia mengingatkan adanya sejumlah risiko eksternal yang perlu diwaspadai. Di antaranya gejolak global seperti konflik geopolitik, ketidakpastian suku bunga global, hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat menekan permintaan kredit.

Selain itu, tekanan juga berpotensi muncul dari segmen UMKM dan properti, serta risiko cuaca ekstrem yang dapat memengaruhi kualitas kredit di sektor tertentu.

“Jika risiko global meningkat, CoC bisa naik moderat. Tapi bank besar masih memiliki buffer yang cukup kuat untuk menyerap tekanan tersebut,” imbuhnya.

Direktur Risk Management BTN menilai, penurunan biaya kredit terjadi karena kualitas kredit baru terus membaik. Selain itu, jumlah kredit yang direstrukturisasi juga terus melandai.

"Rasio LAR juga terus menyusut. Karena itu, kami akan tetap jaga biaya kredit di level 1,0%-1,2% tahun ini," katanya.

Setiyo bilang, saat ini tingkat pencadangan BTN semakin kuat. Dengan NPL Coverage berada di level 124% pada kuartal I-2026.

Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga mencatat kenaikan CoC pada kuartal I-2026 ke level 0,79% dari 0,46% di kuartal I-2025, dan naik dari 0,38% di kuartal IV-2025.

Baca Juga: Bos Bank Himbara Tak Lagi Terima Tantiem, Berdampak pada Kinerja?

Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengatakan peningkatan CoC dibandingkan kuartal IV-2025 dipicu oleh klasifikasi loan recovery dalam pencatatan akuntansi.

“Untuk kenaikan CoC di kuartal I tahun ini dibandingkan kuartal IV tahun lalu, itu karena klasifikasi loan recovery secara akunting. Sifatnya one-off, sehingga terlihat naik tinggi. Namun secara normalized tetap stabil di bawah 1%,” ujarnya.

Ia menegaskan, secara keseluruhan kualitas aset perseroan masih terjaga dengan baik. Rasio kredit bermasalah alias non-performing loan (NPL) tercatat sebesar 1,89%, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri.

Di sisi lain, rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah (NPL coverage) berada di level 176,2%. Meskipun mengalami sedikit penurunan, Lani memastikan level tersebut masih tergolong sehat. “Secara total, kualitas aset kami tetap baik dan sehat,” tambahnya.

Untuk proyeksi ke depan, CIMB Niaga akan terus memantau perkembangan pasar secara cermat di tengah dinamika ekonomi global dan domestik. Perseroan juga menegaskan tidak melihat tekanan signifikan terhadap kualitas kredit dalam jangka pendek.

Baca Juga: Bos Bank Himbara Tak Lagi Terima Tantiem, Berdampak pada Kinerja?

Adapun dari sisi strategi, bank akan tetap mengedepankan pertumbuhan yang prudent dengan fokus pada penguatan pendapatan berbasis komisi (fee based income).

“Fokus kami saat ini adalah tumbuh dengan berhati-hati dan memperkuat fee income,” jelas Lani.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×