kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.488.000   -16.000   -0,64%
  • USD/IDR 16.740   33,00   0,20%
  • IDX 8.748   101,19   1,17%
  • KOMPAS100 1.205   11,60   0,97%
  • LQ45 852   5,43   0,64%
  • ISSI 315   6,02   1,95%
  • IDX30 439   1,60   0,37%
  • IDXHIDIV20 511   1,24   0,24%
  • IDX80 134   1,29   0,97%
  • IDXV30 140   1,02   0,73%
  • IDXQ30 140   0,22   0,15%

Biaya Operasional Meningkat, Perbankan Mulai Fokus Jaga Efisiensi dan Laba


Sabtu, 03 Januari 2026 / 07:31 WIB
Biaya Operasional Meningkat, Perbankan Mulai Fokus Jaga Efisiensi dan Laba
ILUSTRASI. Petugas Teller bank BTN menghitung uang kertas (KONTAN/Carolus Agus Waluyo). Sejumlah bank terus berupaya menjaga efisiensi untuk mempertahankan profitabilitas di tengah tekanan ekonomi yang masih lesu.


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Sejumlah bank terus berupaya menjaga efisiensi untuk mempertahankan profitabilitas di tengah tekanan ekonomi yang masih lesu.

Kondisi ini tercermin dari meningkatnya rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) di beberapa bank hingga kuartal III-2025.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mencatatkan BOPO sebesar 90,23% hingga kuartal III-2025. 

Baca Juga: Perbankan Mulai Berhasil Melakukan Efisiensi Biaya Operasional

Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 89,43%. Sekretaris Perusahaan BTN Ramon Armando menjelaskan, kenaikan BOPO dipicu oleh investasi perseroan di bidang digitalisasi.

Menurut Ramon, investasi tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan pendapatan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional dalam jangka menengah dan panjang. 

Dengan begitu, rasio BOPO BTN secara bertahap dapat ditekan ke level yang lebih sehat dan kompetitif.

Tren serupa juga dialami PT Bank CIMB Niaga. Hingga September 2025, CIMB Niaga mencatat BOPO sebesar 73,23%, naik dari 72,85% pada kuartal III-2024. 

Baca Juga: Biaya Operasional Tinggi Masih Menekan Industri Penerbangan Nasional

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut, kenaikan BOPO terutama disebabkan oleh pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas kredit.

Lani mengakui terdapat peningkatan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) di sejumlah segmen, khususnya pada kredit sektor perumahan dan otomotif. Meski demikian, ia menegaskan biaya operasional di luar CKPN masih relatif stabil.

Hal itu tercermin dari rasio biaya terhadap pendapatan atau Cost to Income Ratio (CIR) CIMB Niaga yang berada di kisaran 45%. 

Lani menilai, posisi tersebut merupakan yang terbaik dibandingkan bank sekelas di industri perbankan. Karena itu, CIMB Niaga masih memiliki ruang untuk meningkatkan efisiensi, sehingga rasio BOPO diyakini dapat terus membaik.

Baca Juga: Bisnis Maskapai Masih Tertekan Biaya Operasional

Sementara itu, Bank Mandiri juga mencatat kenaikan BOPO menjadi 63,48% per September 2025, dari 54,68% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sejalan dengan itu, CIR Bank Mandiri turut meningkat dari 32,12% menjadi 43,05%.

Meski demikian, Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri Novita Widya menegaskan upaya efisiensi perseroan terus menunjukkan perbaikan. 

Ia mencontohkan, biaya operasional Bank Mandiri pada November turun 20,2% secara bulanan, seiring dengan peningkatan produktivitas dalam menghasilkan laba.

Selanjutnya: Daftar iPhone yang Akan Rilis di Tahun 2026, iPhone Lipat Diprediksi Muncul

Menarik Dibaca: Waspada! Akun WhatsApp Bisa Diretas Tanpa Perlu OTP, Ini Solusi yang Bisa Dicoba

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×