Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan tercatat berhasil menekan operational expense (opex) atau biaya overhead di awal tahun 2026. Berkurangnya biaya overhead ini salah satunya karena banyak bank memilih untuk fokus mengembangkan layanan berbasis digital.
Berdasarkan data Asesmen Transmisi SBDK RDG Bank Indonesia (BI) Maret 2026, biaya overhead industri perbankan mengalami penurunan yang cukup signifikan di awal tahun 2026. Biaya overhead bank per Januari 2026 tercatat turun sebesar 31 bps dari bulan sebelumnya menjadi 3,44%.
Secara lebih rinci, penurunan biaya overhead terbesar terjadi pada kelompok Bank Usaha Milik Negara (BUMN) dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang masing-masing turun sebesar 53 bps dan 47 bps. Biaya overhead BUMN menjadi 3,69% dan BPD menjadi 3,37%.
Baca Juga: BRI Finance Klaim Penyaluran Pembiayaan Baru Tumbuh 42,98% pada Februari 2026
Sementara itu kelompok Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) turun 5 bps menjadi 3,19%. Sedangkan kelompok Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) justru naik 11 bps menjadi 1,86%.
Sejalan dengan data tersebut, sejumlah bank mengaku berhasil meningkatkan efisiensi biaya operasionalnya, salah satunya adalah PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga).
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyebut biaya overhead banknya sangat terjaga di awal tahun ini. Terbukti dari rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) yang cukup rendah.
"Saat ini, saya rasa CIMB Niaga adalah salah satu bank yang efisien dengan CIR di 46%an. Paling efficient di KBMI 3," kata Lani saat dihubungi, Kamis (26/3/2026).
Lani mengatakan CIMB Niaga saat ini lebih berfokus untuk memperkuat layanan digital. Oleh karena itu, biaya overhead lebih ditujukan untuk mengoptimalkan sistem digital, seperti untuk penguatan jaringan data dan layanan keamanan siber.
Adapun Lani menyebut nasabah CIMB Niaga selama beberapa tahun terakhir terlihat cenderung lebih menyukai layanan yang bersifat digital. Ini juga menjadi keuntungan bagi bank karena berdampak pada penurunan biaya layanan transaksi.
"Dari sisi cost per transaction telah mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir karena nasabah beralih ke transaksi digital yang lebih murah," jelasnya.
Untuk diketahui, mesin tarik tunai Bank CIMB Niaga yang tersebar di Indonesia saat ini semakin mengalami penurunan jumlah. Dikutip dari laporan tahunan CIMB Niaga, jumlah mesin penarikan dan pengiriman tunai berkurang menjadi total 2.786 per Desember 2025, turun dari tahun sebelumnya di angka 3.256 mesin.
Baca Juga: Penempatan Dana Rp 100 Triliun ke Perbankan Justru Berisiko Terhadap Likuiditas
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga berhasil menjaga biaya operasional dengan mengedepankan layanan berbasis digital dan bersifat non-tunai.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Heryn menyebut sampai Desember 2025, opex BCA hanya mencatatkan pertumbuhan 1,5% secara tahunan (yoy).
Adapun Hera menyebut CIR BCA juga relatif terjaga sepanjang tahun 2025, yakni di angka 30,7%. Ia bahkan menyebut CIR BCA saat ini lebih efisien bila dibandingkan dengan level CIR sebelum pandemi COVID-19 lalu.
Hera memastikan BCA akan terus menjaga tren efisiensi tersebut di tahun 2026. Menurutnya, efisiensi dalam kegiatan operasional akan berdampak baik pada peningkatan layanan bagi seluruh nasabah.
"BCA akan terus memperkuat ekosistem finansial, serta menyempurnakan dan memodernisasi infrastruktur teknologi informasi yang dimiliki, dalam rangka menjaga efisiensi," kata Hera kepada Kontan, Kamis (26/3).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













