Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Bank Tabungan Negara (BTN) mencatat lonjakan beban pencadangan 205,1% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 6,1 triliun dari Rp 2,02 triliun di 2024.
Direktur Manajemen Risiko BTN Setiyo Wibowo menilai, kenaikan biaya pencadangan sebagai strategi kehati-hatian guna memperkuat ketahanan neraca di tengah dinamika ekonomi yang masih menantang.
"BTN sebetulnya telah menunjukkan perbaikan kualitas portofolio kredit. Hal ini tercermin dari tren penurunan rasio kredit bermasalah (NPL) serta indikator risiko yang semakin membaik. Namun, BTN tetap memilih meningkatkan provisi sebagai langkah antisipatif," kata Setiyo kepada kontan.co.id, Jumat (13/2).
Sepanjang 2025, cost of credit bank berkode saham BBTN ini tercatat sekitar 1,6% dengan tujuan memperkuat coverage ratio hingga berada di atas 123%. Adapun NPL terjaga di level 3,1%.
Baca Juga: Ubah Nama, OJK Beri Izin Usaha PT AMB Insurance Broker
Menurut Setiyo, strategi pencadangan yang lebih kuat diperlukan untuk menjaga fundamental bank dalam jangka menengah hingga panjang, terutama menghadapi ketidakpastian ekonomi global maupun domestik.
Memasuki 2026, Setiyo menilai kondisi makroekonomi masih penuh tantangan. Kendati demikian, perseroan optimistis kualitas aset akan terus membaik seiring portofolio kredit yang lebih sehat dan pencadangan yang semakin kuat.
BTN pun menargetkan rasio NPL dapat ditekan di bawah 3% serta coverage ratio meningkat bertahap mendekati 130%.
Untuk menjaga kualitas kredit sekaligus mengendalikan biaya provisi, BTN menjalankan sejumlah strategi. Di antaranya otomasi proses kredit berbasis data analytics dan artificial intelligence guna meningkatkan kualitas underwriting serta sistem peringatan dini.
Selain itu, bank memperkuat manajemen penagihan dengan pendekatan lebih granular berbasis segmentasi risiko, serta meningkatkan monitoring portofolio kredit secara end-to-end agar respons terhadap potensi penurunan kualitas kredit bisa lebih cepat.
"Dengan kombinasi penguatan pencadangan, transformasi proses berbasis teknologi, serta perbaikan kualitas portofolio, BTN optimistis mampu menjaga stabilitas kinerja di tengah tekanan ekonomi sekaligus memperkuat daya tahan bisnis ke depan," imbuhnya.
Baca Juga: Strategi Amartha Perluas Adopsi dan Tingkatkan Transaksi Dompet Digital
Selanjutnya: Aktivitas Ekonomi Meningkat, Menkeu Purbaya Yakin Utang Swasta Naik Tahun Ini
Menarik Dibaca: 6 Tanda pada Tubuh jika Kesehatan Usus Bermasalah, Apa Saja?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)