Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) menargetkan jumlah nasabah pengguna platform digital banking korporasi OCTO Biz mencapai 40.000–42.000 nasabah hingga akhir 2026. Target tersebut meningkat dari posisi saat ini yang telah mencapai sekitar 32.000 nasabah.
Head of Transaction Banking CIMB Niaga Joni Hermanto mengatakan, perseroan optimistis dapat mencapai target tersebut seiring dengan upaya meningkatkan kemudahan transaksi bagi nasabah korporasi melalui layanan digital.
Menurutnya, kebutuhan nasabah korporasi terhadap platform digital semakin kompleks. Karena itu, CIMB Niaga berupaya mengembangkan fitur OCTO Biz berdasarkan kebutuhan nasabah, terutama untuk menyederhanakan proses transaksi.
Baca Juga: Perbankan Kuasai 82,78% Kredit UMKM, Tumbuh 3,36% per Agustus 2026
“Semakin simpel transaksi, semakin memudahkan nasabah untuk bertransaksi. Jadi, yang dikembangkan CIMB Niaga bukan berdasarkan kemauan kami, melainkan berdasarkan kebutuhan nasabah,” ujar Joni di Jakarta, Jumat (16/10).
Ia mencontohkan, perbedaan jumlah klik dalam melakukan transaksi dapat memberikan dampak signifikan bagi perusahaan dengan volume transaksi tinggi. Bagi perusahaan yang melakukan sekitar 1.000 transaksi per hari, pengurangan tujuh klik untuk setiap transaksi dapat menghemat hingga 7.000 kali klik dalam sehari.
Selain penyederhanaan transaksi, CIMB Niaga juga mengandalkan kemiripan fitur OCTO Biz dengan aplikasi OCTO Mobile untuk nasabah individu. Dengan demikian, nasabah yang telah terbiasa menggunakan layanan digital CIMB Niaga diharapkan lebih mudah beradaptasi saat melakukan transaksi korporasi.
Joni menambahkan, pertumbuhan OCTO Biz juga berpotensi mendukung bisnis kredit korporasi CIMB Niaga. Meski tidak berdampak langsung terhadap penyaluran kredit, data transaksi yang dihimpun melalui platform tersebut dapat membantu bank menganalisis kebutuhan pembiayaan nasabah.
Melalui aktivitas pembayaran dan penerimaan dana atau collection, bank dapat memetakan arus kas nasabah, termasuk membandingkan dana masuk dengan kebutuhan pembayaran kepada pemasok.
Jika kebutuhan dana keluar lebih besar daripada penerimaan dana, nasabah berpotensi membutuhkan fasilitas modal kerja. Sebaliknya, apabila dana masuk lebih besar daripada pengeluaran, bank dapat menawarkan produk pengelolaan dana, seperti pendanaan dan deposito.
“Data yang kami miliki cukup komprehensif. Perputaran transaksi nasabah membantu kami melakukan peninjauan kebutuhan mereka, apakah membutuhkan fasilitas kredit atau justru memiliki kelebihan dana,” jelasnya.
Dengan analisis tersebut, data transaksi OCTO Biz dapat menjadi salah satu masukan bagi relationship manager dalam menawarkan produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah.
Di sisi lain, CIMB Niaga juga mengandalkan struktur pendanaan yang didominasi dana murah untuk menjaga daya saing suku bunga kredit. Joni menyebut, rasio dana murah atau current account savings account (CASA) CIMB Niaga saat ini berada di kisaran 70%.
Menurutnya, suku bunga menjadi salah satu pertimbangan nasabah dalam memilih bank untuk memenuhi kebutuhan modal kerja. Nasabah yang memiliki fasilitas kredit di beberapa bank cenderung memanfaatkan fasilitas dari bank yang menawarkan bunga lebih kompetitif.
Kondisi tersebut turut memengaruhi tingkat pemanfaatan fasilitas kredit yang telah disediakan atau undisbursed loan. Joni mengatakan, fasilitas kredit yang belum dicairkan merupakan hal yang lazim di industri perbankan. Namun, bank dapat mendorong pemanfaatannya melalui penawaran suku bunga yang kompetitif.
Dengan strategi digitalisasi transaksi dan penguatan dana murah tersebut, CIMB Niaga berupaya meningkatkan akuisisi nasabah korporasi sekaligus memperluas peluang bisnis dari kebutuhan transaksi, pembiayaan, dan pengelolaan dana nasabah.
Baca Juga: BSI (BRIS) Gandeng 16 Bank untuk Transaksi Hedging Syariah dan SiPA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














