Reporter: Ferry Saputra | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Danantara Asset Management mengeksekusi rencana menggabungkan Manajer Investasi (MI) Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Rencana tersebut untuk membangun pengelolaan aset yang lebih besar.
Pada Kamis (2/4/2026), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mengumumkan Danantara Asset Management telah menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat saham anak usaha mereka di bidang manajer investasi. Penandatanganan tersebut terjadi pada 1 April 2026.
Mengenai penggabungan itu, Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana mengatakan konsolidasi di MI BUMN sudah diwacanakan dari tahun lalu, yakni menguasai sekitar 20% dari dana kelolaan industri. Wawan menerangkan dampaknya akan membuat MI BUMN lebih efisien dan seharusnya lebih profitable.
"Di sisi lain, tidak menutup bahwa akan ada anggota yang terkena efisiensi dan lapangan kerja bagi talent pool di industri pasar modal berkurang," katanya kepada Kontan, Senin (6/4/2026).
Baca Juga: OJK: Aset Bank BUMN Tumbuh Lebih Cepat Dibandingkan Bank Swasta
Sementara itu, Wawan menerangkan dampak yang dirasakan bagi MI swasta imbas penggabungan tersebut justru pesaing akan berkurang. Sebab, bagi investor umumnya akan memiliki batas penempatan pada MI tertentu, semisal 10% atau 20% dari dana investasi.
"Dengan demikian, ada potensi spillover atau efek limpahan ke manajer investasi swasta," ucap Wawan.
Asal tahu saja, transaksi tersebut rinciannya, yakni BNI melalui anak usahanya PT BNI Sekuritas akan menjual sebanyak 39.960.000 saham PT BNI Aset Manajemen kepada Danantara dengan nilai transaksi afiliasi Rp 359,64 miliar.
BRI mengalihkan dua anak usaha yakni PT BRI Manajemen Investasi dan PT PNM Investment Management dengan total nilai Rp 1,3 triliun. BRI melalui anak usahanya PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjual sebanyak 109.999 saham PNM IM dengan nilai transaksi Rp 345 miliar. Sementara nilai transaksi pengalihan saham BRI Manajemen Investasi Rp 975 miliar untuk saham sebanyak 19,5 juta saham.
Bank Mandiri juga telah mengalihkan anak usahanya PT Mandiri Manajemen Investasi senilai Rp 1,025 triliun.
Baca Juga: Pengamat Ingatkan Risiko Danantara Masuk Pasar Modal melalui Manajer Investasi
Jika menelaah dari data Infovesta per Februari 2026, dana kelolaan BRI Manajemen Investasi mencapai Rp 51,82 triliun. Selanjutnya, Mandiri Manajemen Investasi memiliki dana kelolaan Rp 45,81 triliun, kemudian BNI Asset Management membukukan dana kelolaan sebesar Rp 32,66 triliun.
Adapun PNM Investment Management memiliki dana kelolaan Rp 4,81 triliun. Jika ditotal, keseluruhan asetnya mencapai Rp 135,1 triliun.
Dari sisi perusahaan swasta, PT Panin Asset Management turut angkat bicara mengenai penggabungan MI BUMN tersebut. Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto mengatakan seharusnya dampak yang timbul bagi industri MI tidak banyak berbeda.
"Mungkin untuk nasabah institusi akan tersegmentasi, yang mana nasabah BUMN cenderung akan memilih sesama BUMN, sedangkan akses dari MI swasta ke BUMN akan lebih terbatas," ucapnya kepada Kontan.
Rudiyanto menerangkan Panin Asset Management mencapai Rp 14,9 triliun per Maret 2026. Untuk meningkatkan dana kelolaan, dia bilang pihaknya akan mengoptimalkan pengelolaan produk dengan kinerja yang kompetitif, memperluas jaringan pemasaran, meningkatkan kualitas tenaga pemasar, dan melaksanakan kegiatan edukasi secara berkelanjutan.
Baca Juga: Danantara Ambil Alih Manajer Investasi Milik BRI, BNI, Bank Mandiri Senilai Rp 2,7 T
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













