kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45867,20   12,42   1.45%
  • EMAS1.371.000 1,18%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Data Fintech Lending Bakal Masuk SLIK, Ini Tanggapan Sejumlah Pemain


Minggu, 19 Mei 2024 / 17:58 WIB
Data Fintech Lending Bakal Masuk SLIK, Ini Tanggapan Sejumlah Pemain
ILUSTRASI. Penyempurnaan aturan itu akan mewajibkan penyelenggara fintech P2P lending untuk menjadi pelapor SLIK.


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah perusahaan fintech peer to peer (P2P) lending menyambut baik adanya rencana data fintech lending bakal masuk ke dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Perlu diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan sedang melakukan penyempurnaan terhadap POJK Nomor 18/POJK.03/2017 tentang Pelaporan dan Permintaan Informasi Debitur Melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). 

Penyempurnaan aturan itu akan mewajibkan penyelenggara fintech peer to peer (P2P) lending untuk menjadi pelapor SLIK. Artinya, data fintech lending akan masuk SLIK.

Mengenai rencana aturan tersebut, perusahaan fintech lending BantuSaku menilai adanya penyempurnaan aturan itu akan berdampak positif juga bagi industri. Direktur Utama BantuSaku Arnoldyth Rodes Medo menilai inovasi tersebut bisa menjadi salah satu cara untuk memperbaiki kesehatan pinjaman bagi fintech lending.

"Sebab, dengan data peminjam masuk data SLIK, akan memberikan penilaian tambahan bagi fintech dalam menentukan penyaluran pinjaman," ungkap dia kepada Kontan.co.id, Jumat (17/5).

Baca Juga: OJK Tak Larang Pembiayaan Fintech Lending ke Sektor Pendidikan

Arnoldyth mengatakan fintech hanya akan melakukan penyaluran pinjaman kepada calon peminjam dengan historis pinjaman yang baik untuk meminimalisir gagal bayar dari peminjam. Selain itu, cara tersebut juga memberikan peringatan bagi calon borrower dan borrower existing untuk lebih peduli dengan pinjaman yang dilakukan untuk tetap menjaga skor kredit tetap lancar.

Menurutnya, dengan adanya aturan data fintech lending masuk SLIK, diharapkan dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung turunnya angka tingkat wanprestasi atau TWP90 industri.

Namun, Arnoldyth menyampaikan tentunya para pelaku usaha tidak dapat sepenuhnya bergantung pada cara itu saja untuk menurunkan angka TWP90. Dia menerangkan pelaku industri dapat meningkatkan mitigasi risiko yang dilakukan secara internal, baik dengan bekerja sama dengan pihak ketiga yang kredibel.

"Selain itu, meningkatkan batasan nilai pengguna yang dapat melakukan pinjaman untuk mencegah meningkatnya angka TWP90," katanya.

Baca Juga: Modalku Sebut Penurunan Bunga Tak Berdampak Signifikan ke Bisnis Perusahaan

Lebih lanjut, Arnoldyth bilang BantuSaku juga harus prudent dalam proses user acquisition dengan terus memperhatikan kelayakan dan kemampuan calon borrower untuk memenuhi kewajiban pembayaran pendanaan. Adapun hal yang perlu diperhatikan, yaitu watak (character) dan kemampuan membayar kembali (repayment capacity). 

"Fintech lending juga dapat memperhatikan aspek lainnya, seperti modal, prospek ekonomi, atau objek jaminan (collateral) apabila ada," ungkap dia.

Selain meningkatkan mitigasi risiko, Arnoldyth menyebut perlu adanya update teknologi, yaitu terus mengembangkan machine learning yang andal pada proses user acquisition. Dia bilang pelaku usaha juga perlu untuk melakukan penilaian kembali untuk borrower existing secara berkala guna mengetahui credit scoring terbaru pada borrower tersebut. 

"Hal itu dilakukan untuk mencegah adanya pemberian kredit yang berlebihan secara bersamaan dari beberapa pelaku usaha sejenis yang dapat menyebabkan risiko gagal bayar tinggi," katanya.

Berdasarkan situs resmi perusahaan, tingkat TWP90 BantuSaku berada di angka 0%. Adapun nilai penyaluran pinjaman tahun ini sebesar Rp 3,77 triliun.

Baca Juga: Ini Respons AFPI Soal Data Fintech P2P Lending Bakal Masuk SLIK

Sementara itu, PT Akselerasi Usaha Indonesia atau Akseleran juga menyambut baik adanya rencana tersebut. CEO & Co-Founder Akseleran Ivan Nikolas Tambunan mengatakan SLIK bisa membantu perusahaan fintech dan industri keuangan secara umum. 

Untuk fintech lending, dia bilang perusahaan bisa melihat data credit history real time calon borrower di semua lembaga keuangan. 

"Dengan demikian, kalau mereka gagal bayar, mereka tidak bisa pinjam di tempat lain. Jadi, hal itu menjadi hukuman bagi mereka kalau tidak bayar," kata dia kepada Kontan.co.id, Jumat (17/5).

Dari sisi industri keuangan secara umum, Ivan menyebut perusahaan juga bisa melihat kalau calon borrower mereka, sudah punya pinjaman di fintech lending atau tidak. Jadi, bisa masuk ke penilaian mereka juga dan bisa mengetahui kalau si borrower sudah pinjam terlalu banyak atau tidak. 

Dari sisi borrower juga bisa bagus dampaknya, dia menerangkan kalau mereka awalnya meminjam di fintech lending, mereka bisa membangun track record peminjaman yang baik. Dengan demikian, mereka yang mau pinjam ke perbankan bisa terlihat track record baik tersebut dan mereka juga menjadi lebih bankable.

Adapun penyaluran Akseleran sampai akhir April tercatat hampir Rp 1 triliun, sedangkan angka TWP90 perusahaan saat ini berada di level 0,21%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×