kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.427.000   7.000   0,49%
  • USD/IDR 16.160
  • IDX 7.321   96,85   1,34%
  • KOMPAS100 1.149   10,13   0,89%
  • LQ45 923   12,71   1,40%
  • ISSI 219   0,62   0,28%
  • IDX30 461   6,63   1,46%
  • IDXHIDIV20 555   8,24   1,51%
  • IDX80 129   1,33   1,04%
  • IDXV30 130   1,58   1,24%
  • IDXQ30 156   2,26   1,48%

Ini Respons AFPI Soal Data Fintech P2P Lending Bakal Masuk SLIK


Minggu, 19 Mei 2024 / 13:39 WIB
Ini Respons AFPI Soal Data Fintech P2P Lending Bakal Masuk SLIK
ILUSTRASI. Penyelenggara fintech peer to peer (P2P) lending akan diwajibkan menjadi pelapor Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Artinya, data fintech lending akan masuk SLIK.


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang melakukan penyempurnaan terhadap POJK Nomor 18/POJK.03/2017 tentang Pelaporan dan Permintaan Informasi Debitur Melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).

Penyempurnaan aturan itu akan mewajibkan penyelenggara fintech peer to peer (P2P) lending untuk menjadi pelapor SLIK. Artinya, data fintech lending akan masuk SLIK.

Mengenai hal itu, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyambut baik adanya inisiatif data fintech lending masuk ke dalam SLIK. Menurut Director of Corporate Communication AFPI Andrisyah, cara itu akan membuat industri fintech lending makin sehat.

"Tentunya dengan masuk SLIK, sisi pengelolaan risiko maupun potensi kolaborasi dengan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) lain akan meningkat," kata Andrisyah kepada Kontan, Jumat (17/5).

Baca Juga: Data Fintech Lending Bakal Masuk SLIK, Akan Berguna untuk Proses Credit Scoring

Andrisyah juga mengatakan cara tersebut diharapkan menjadi salah satu pendekatan yang efektif dalam meningkatkan keberlangsungan industri fintech lending dan meningkatkan perlindungan masyarakat.

Selain data fintech lending masuk ke SLIK, Andrisyah berpendapat ada berbagai cara lain yang telah dilakukan fintech lending untuk meminimalisir potensi gagal bayar. Salah satunya dengan melakukan mitigasi risiko yang ketat, seperti inovasi teknologi, kolaborasi dengan pihak ketiga seperti biro kredit, dan lainnya. 

"Tentunya peningkatan kualitas SDM di industri juga terus difokuskan. Training dan sertifikasi selalu dilakukan kami, serta meningkatkan kualitas SDM untuk menjamin bahwa industri fintech lending memiliki orang-orang yang andal dan kompeten," kata Andrisyah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Pre-IPO : Explained Supply Chain Management on Efficient Transportation Modeling (SCMETM)

[X]
×