Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli
Namun begitu, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Hery Gunardi mengaku tak mendapat arahan khusus dari Istana untuk menahan transmisi suku bunga. Malah ia bilang, pada prinsipnya kenaikan suku bunga deposito tak terhindarkan ke depannya.
“BI Rate adalah bunga acuan, suku bunga deposito pasti akan mengacu kepada BI Rate. Jika BI Rate naik secara gradual, suku bunga deposito juga akan ikut naik,” tutur Hery kepada Kontan, Minggu (21/6/2026).
Pun untuk suku bunga kredit, ia menjelaskan bahwa salah satu komponen perhitungannya adalah biaya dana (cost of fund/CoF). Maka, kenaikan suku bunga deposito, yang mendorong naik CoF, pasti bakal turut mendorong naik suku bunga kredit ke depannya.
Hanya saja, ia memastikan transmisi suku bunga kredit memiliki jeda waktu lebih lama.
Baca Juga: Masuk Era Suku Bunga Tinggi, Intip Prospek Saham Bank Woori Saudara (SDRA)
Di sisi lain, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Nixon Napitupulu mengaku masih mengkaji dampak kenaikan BI Rate ini. Yang pasti, suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi tak bakal berubah karena disokong insentif pemerintah.
Untuk KPR non subsidi, Nixon bilang penawaran bunga promo masih berlaku saat ini.
“Sedang dikaji apakah bunga promonya naik atau tetap,” ungkap Nixon kepada Kontan, Minggu (21/6/2026).
Adapun untuk suku bunga deposito, ia bilang arahnya bakal bergantung pada persaingan di pasar.
Sementara itu, meski BI Rate naik, Corporate Secretary PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Okki Rushartomo mengaku optimistis dapat terus menjalankan fungsi intermediasinya dengan bekal permodalan, likuiditas, dan kualitas aset yang memadai.
Namun, bank juga turut mencermati potensi dampak kenaikan suku bunga terhadap permintaan kredit.
Baca Juga: Rosan Tegaskan Tak Ada Arahan Presiden Soal Menahan Suku Bunga Kredit Himbara
Sebagai langkah antisipatif, ia bilang pihaknya senantiasa mengelola portofolio bisnis secara selektif dan adaptif, meski sembari memastikan dukungan pembiayaan tetap tersedia bagi sektor-sektor produktif.
“Di tengah dinamika suku bunga, BNI memperkuat transformasi digital untuk meningkatkan efisiensi layanan dan proses bisnis. Kami fokus pada transformasi, penguatan tata kelola, dan pengelolaan risiko yang disiplin,” kata Okki dalam keterangannya, Sabtu (20/6/2026).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













