Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kemampuan masyarakat untuk menabung uangnya di perbankan tampaknya mulai membaik. Ini tercermin dari simpanan masyarakat sektor rumah tangga di perbankan mulai menunjukkan tanda pemulihan.
Data Bank Indonesia menunjukkan, rata-rata dana pihak ketiga (DPK) rumah tangga per rekening tercatat naik menjadi Rp6,09 juta pada Desember 2025. Jumlah ini naik dari bulan sebelumnya atau November 2025 yang mencapai Rp 6,02 juta.
Secara rinci, untuk instrumen tabungan sendiri, rata-rata per rekening di periode yang sama juga naik menjadi Rp 4,10 juta dari bulan sebelumnya sebesar Rp 4,03 juta.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai kenaikan DPK rumah tangga perlu dicermati lebih dalam. Menurutnya, peningkatan simpanan belum tentu mencerminkan konsumsi yang menguat.
Baca Juga: Rasio NPL UMKM Naik ke 4,6% pada Januari 2026, Ini Dampaknya ke Industri Penjaminan
“DPK rumah tangga tumbuh lebih ke arah saving atau berjaga-jaga di tengah ketidakpastian ekonomi,” ujar Bhima kepada kontan.co.id, Selasa (31/3).
Ia menambahkan, indikasi tersebut terlihat dari perlambatan sektor riil, seperti kredit UMKM yang justru terkontraksi 0,3% secara tahunan pada Desember 2025. Selain itu, terjadi pergeseran dari tabungan ke giro yang lebih likuid.
“Kalau bergeser ke giro, artinya dana lebih mudah ditarik kapan saja, biasanya untuk kebutuhan darurat,” jelasnya.
Bhima memproyeksikan tren DPK rumah tangga berpotensi melambat pada 2026. Hal ini seiring tekanan kebutuhan konsumsi, seperti kenaikan harga BBM, LPG, dan bahan pangan, serta risiko meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Begitu angka PHK naik, saving akan tergerus karena dipakai sebagai bantalan bertahan hidup,” katanya.
Di sisi lain, perbankan melihat tren ini lebih positif. Head of Deposit Product Management PT Bank Mandiri Tbk, Mega Ekaputri Pujianto, menilai pemulihan DPK rumah tangga sejalan dengan membaiknya aktivitas ekonomi.
“Pemulihan rata-rata DPK rumah tangga menjadi indikator positif yang sejalan dengan perbaikan aktivitas ekonomi di akhir 2025,” ujarnya.
Hal ini tercermin dari Mandiri Spending Index (MSI) yang naik sekitar 17% secara bulanan pada Desember 2025 dan berada di level 354,5 pada pekan terakhir penutupan tahun, serta penguatan indeks tabungan kelompok menengah yang justru naik 0,49 poin menjadi 101,2.
“Kelompok menengah mulai kembali memperkuat likuiditas dan tabungannya setelah sebelumnya menahan diri,” tambah Mega.
Kondisi tersebut turut mendorong kinerja Bank Mandiri. Sepanjang 2025, DPK konsolidasi tumbuh di atas 23% secara tahunan, sementara dana murah (CASA) naik sekitar 12%. Tren ini berlanjut pada Januari 2026 dengan pertumbuhan DPK bank only di atas 17%.
Menurut Mega, inflasi yang terkendali menjadi faktor utama penopang daya beli. Inflasi Desember 2025 tercatat 2,92% secara tahunan, menjaga konsumsi tetap stabil.
Ke depan, Bank Maandiri memproyeksikan tren pemulihan DPK rumah tangga akan berlanjut. Momentum Ramadan dan Idulfitri pada kuartal I-2026 diperkirakan menjadi katalis tambahan.
“Kombinasi stimulus pemerintah dan momentum musiman akan mendorong konsumsi sekaligus meningkatkan kemampuan menabung masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, dengan fundamental ekonomi yang tetap kuat dan proyeksi pertumbuhan di atas 5% pada 2026, penghimpunan DPK ritel diperkirakan tetap tumbuh pada kisaran high single-digit hingga low double-digit.
Untuk terus mengakselerasi pertumbuhan simpanan sektor rumah tangga secara berkelanjutan, Bank Mandiri memfokuskan strategi pada penguatan ekosistem digital, seperti optimalisasi Livin' by Mandiri, juga melakukan penguatan CASA.
"Sinergi layanan keuangan dari wholesale hingga retail memungkinkan kami mengakuisisi value chain (termasuk payroll) dari korporasi," ujar Mega.
Hal ini kata Mega terbukti efektif menjaga rasio CASA secara konsisten di level yang sangat sehat, yakni di atas 70% per Januari 2026, sehingga beban biaya dana (CoF) tetap efisien.
Senada, Direktur Network and Retail Funding BTN, Rully Setiawan, melihat adanya perbaikan perilaku menabung masyarakat.
“Pemulihan rata-rata DPK rumah tangga mengindikasikan adanya perbaikan perilaku menabung masyarakat,” ujarnya.
Ia mencatat, jumlah akun simpanan transaksional di BTN tumbuh 27% secara tahunan, dengan peningkatan yang cukup stabil pada segmen kelas menengah.
Namun, Rully memperkirakan rata-rata simpanan per nasabah masih akan bergerak moderat.
“Pemulihan daya beli membutuhkan waktu, sehingga rata-rata simpanan belum akan meningkat signifikan,” katanya.
Untuk menjaga pertumbuhan DPK, BTN menyiapkan sejumlah strategi. Di antaranya memperkuat ekosistem digital melalui super app Bale, mendorong transaksi berbasis komunitas, serta memperluas kerja sama dengan merchant dan e-commerce.
Selain itu, BTN juga mengandalkan program loyalitas berbasis transaksi serta edukasi keuangan agar rekening tidak hanya digunakan untuk menabung, tetapi juga transaksi harian.
Baca Juga: Allo Bank Pangkas Kepemilikan SBN, Antisipasi Risiko Global dan Tekanan Inflasi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













