kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Dua opsi asuransi pasca disahkannya UU Penjaminan


Rabu, 20 Januari 2016 / 20:29 WIB


Reporter: Dina Farisah | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Pasca diketoknya Undang-Undang Penjaminan (UU Penjaminan) pada Desember lalu oleh DPR, perusahaan asuransi tidak boleh lagi menjalankan usaha penjaminan proyek (surety bond). UU Penjaminan memberikan dua opsi sebagai solusinya.

Juru bicara pengusul RUU Penjaminan Fraksi Partai Golkar, Mukhamad Misbakhun mengatakan, jika perusahaan asuransi melakukan kegiatan surety bond setelah tiga tahun sejak disahkannya UU Penjaminan maka kegiatan usaha tersebut merupakan ilegal. Ada dua opsi agar kegiatan usaha tersebut tetap diperbolehkan.

"Pertama, perusahaan asuransi harus mengalihkannya kepada perusahaan penjaminan. Kedua, mau tidak mau, perusahaan asuransi harus mendirikan perusahaan penjaminan," ungkap Misbakhun kepada KONTAN.

Hal ini, sambung Misbakhun, lantaran pada UU Asuransi juga tidak mengatur kegiatan usaha surety bond. Selanjutnya, Perum Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) ditunjuk sebagai salah satu pihak yang melakukan kegiatan penjaminan.

Untuk diketahui, UU Penjaminan ini tengah menanti penomoran dari Kementerian Hukum dan Hak Asazi Manusia (Kemenkumham). Setelah itu, dibuatkan berita negara oleh Sekretaris Negara (Setneg). Selanjutnya akan ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×