kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Ekonom: Bunga kredit UKM dan Mikro 36%-40% terlalu tinggi


Rabu, 16 November 2011 / 15:47 WIB
ILUSTRASI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,24% ke level 6.008,71 pada Rabu (23/12). Sementara indeks saham LQ45 turun 0,23%.


Reporter: Astri Kharina Bangun |

JAKARTA. Ekonom Mirza Adityaswara menilai tingkat suku bunga yang dikenakan bank terhadap kredit UKM dan Mikro yang saat ini di kisaran 36%-40% terlalu tinggi.

Menurut Mirza angka tersebut masih bisa diturunkan. Asumsinya, jika komponen bunga deposito, overhead, premi risiko, dan margin masing-masing sebesar 7%, 3%, 7%, dan 4%, bunga yang dikenakan bisa mencapai minimal 21%. Kalaupun margin ditambahkan, masih bisa dinaikkan ke level 25%.

"Jadi kelewatan kalau masih ada bank yang kasih bunga kredit UKM dan mikro 36%-40%," terang Mirza dalam Seminar Indonesia Economic Outlook 2012 yang digelar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Kamis (16/11).

Net Interest Margin perbankan dalam negeri cukup tinggi, terutama pada bank-bank penyalur kredit UKM dan Mikro. Per September 2011, misalnya NIM BRI 10,2%, BTPN 12,7% dan Bank Danamon 9,9%.

"Yang menyebabkan NIM bisa 10%-11% karena mereka oligopoli di pasar mikro. NIM mikro bisa diturunkan kalau kompetisi ditambah. Seperti yang terjadi di kredit korporasi dan KPR," kata Mirza.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×