kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.770.000   11.000   0,40%
  • USD/IDR 18.049   -28,00   -0,15%
  • IDX 5.697   -143,05   -2,45%
  • KOMPAS100 753   -18,66   -2,42%
  • LQ45 568   -13,29   -2,29%
  • ISSI 199   -3,96   -1,95%
  • IDX30 321   -7,15   -2,18%
  • IDXHIDIV20 397   -9,21   -2,27%
  • IDX80 85   -2,02   -2,31%
  • IDXV30 108   -3,35   -3,00%
  • IDXQ30 104   -2,22   -2,09%

Era AI Dimulai, Bos BRI Sebut Bank Harus Berubah atau Tertinggal


Jumat, 05 Juni 2026 / 09:31 WIB
Era AI Dimulai, Bos BRI Sebut Bank Harus Berubah atau Tertinggal
ILUSTRASI. Direktur Utama BRI Hery Gunardi (Dok/BRI)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau biasa disebut artificial intelligence (AI) mendorong industri perbankan memasuki fase transformasi baru.

Menurut Direktur Utama BRI Hery Gunardi, layanan keuangan kini tidak lagi hanya bertumpu pada jaringan fisik, tetapi bergerak menuju model layanan yang semakin terhubung dengan ekosistem digital dan aktivitas masyarakat sehari-hari.

"Kondisi tersebut membuat perbankan perlu terus berevolusi agar tetap relevan di tengah perubahan perilaku nasabah dan dinamika industri yang berkembang cepat," kata Hery dalam siaran pers, Jumat (5/6/2026).

Baca Juga: Premi Asuransi Jiwa dari Pembayaran Tunggal Naik 7,4% Kuartal I-2026, Ini Penyebabnya

Hery menyoroti bagaimana perkembangan teknologi telah mengubah industri perbankan, mulai dari pola interaksi nasabah, model distribusi layanan, hingga kompetisi industri keuangan yang kini semakin berbasis ekosistem digital.

Menurut Hery, perbankan terus berubah dan mengalami evolusi. Ia lantas mengutip penjelasan penulis terkemuka Brett King yang banyak menulis soal perbankan. Pada era bank 1.0, layanan dasar bank adalah transaksi hanya menggunakan cek dan giro. Kemudian era bank 2.0 di mana muncul penggunaan automatic teller machine (ATM) yang dapat melayani nasabah 7x24 jam.

"Kemudian bank 3.0 itu adalah terkait juga dengan internet banking. Jadi nasabah mungkin tidak perlu lagi datang ke cabang bank misalnya, bagi nasabah korporasi, mereka bisa melakukan transaksi dari kantor dengan internet banking," kata Hery. 

"Nah yang keempat ini adalah financial technology, fintech dan juga digitalisasi. Nah digital ini memang sudah mengubah perilaku nasabah-nasabah yang ada di Indonesia terutama dan juga yang ada di luar negeri misalnya," lanjutnya. 

Digitalisasi di sektor perbankan berjalan sangat cepat, momen pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu turut mempercepat proses tersebut.

"Itu nasabah kan tidak bisa datang ke cabang. Jadi yang tadinya gaptek (gagap teknologi), tidak bisa menggunakan mobile banking, terpaksa menggunakan mobile banking, karena tidak bisa datang ke ATM, tidak bisa datang ke cabang, tidak bisa transaksi di teller dan seterusnya," ujar Hery. 

"Nah apa yang dilakukan bank, menurut Brett King, bank is a technology company with a banking license. Sebenarnya bank itu technology company," lanjutnya.

Baca Juga: Investor Asing Kabur, Saham BBCA & BBRI Terjun Bebas: Saatnya Beli?

Jadi artinya, lanjut dia, dengan kondisi seperti ini, perbankan tidak akan bisa melawan perkembangan zaman.

"Ini adalah satu keharusan bahwa kita harus mentransformasi diri, mengubah diri. Bukan hanya digitalisasi, bukan hanya otomasi, tetapi juga terkait dengan sekarang ada AI dan Gen AI. Jadi kalau itu tidak diubah, kita tidak lagi mengikuti tren ini, bank itu akan ditinggalkan oleh nasabahnya," kata Hery.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×