Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Allo Bank Indonesia Tbk berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, pendanaan, kualitas aset, dan profitabilitas di tengah ketatnya likuiditas pasar.
Hingga Mei 2026, penyaluran kredit Allo Bank mencapai Rp 10,13 triliun atau tumbuh 38,6% secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, DPK tercatat sebesar Rp 6,17 triliun atau meningkat 7,75% yoy.
Dengan demikian, posisi LDR bank berada di kisaran 163,9%, naik dibanding periode yang sama tahun lalu yang sekitar 127,4%.
Baca Juga: Bank Bakal Lebih Longgar Penyaluran Kredit di Kuartal III-2026, Jadi Sinyal Baik
Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengatakan, kenaikan LDR tersebut lebih mencerminkan dinamika pertumbuhan bisnis di tengah fase ekspansi yang sedang dijalankan perseroan.
"Kami melihat level LDR Allo Bank saat ini lebih mencerminkan dinamika pertumbuhan bisnis dibandingkan adanya tekanan likuiditas. Pada semester I 2026, pertumbuhan penyaluran kredit memang berlangsung lebih cepat dibandingkan pertumbuhan DPK, sehingga secara rasio LDR mengalami peningkatan," ujar Destya kepada Kontan, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut masih tergolong wajar selama didukung oleh permodalan yang kuat, pengelolaan likuiditas yang disiplin, serta kualitas aset yang tetap terjaga.
Ia mengakui, industri perbankan tahun ini menghadapi tantangan likuiditas yang lebih besar dibanding tahun lalu. Dinamika suku bunga, ketidakpastian ekonomi global, hingga ketatnya persaingan menghimpun dana membuat bank perlu lebih cermat mengelola struktur pendanaan.
Meski demikian, Destya memastikan kondisi likuiditas Allo Bank masih berada dalam koridor yang dapat dikelola dengan baik.
Dari sisi pendanaan, Allo Bank masih mengandalkan DPK sebagai sumber likuiditas utama, baik dari simpanan ritel maupun deposito.
Ke depan, pihaknya bakal memperbesar porsi dana murah atau current account saving account (CASA) melalui peningkatan transaksi nasabah, pengembangan berbagai use case pembayaran digital, layanan payroll, serta penguatan integrasi dengan ekosistem.
Baca Juga: Fitch Ratings Ganjar Peringkat AAA(idn) untuk Obligasi dan Sukuk Pegadaian
"Fokus kami adalah membangun funding yang lebih granular dan berkelanjutan sehingga ketergantungan terhadap pricing dapat dikurangi secara bertahap," katanya.
Di sisi penyaluran kredit, Allo Bank belum berencana mengerem ekspansi meski LDR meningkat. Namun, bank memastikan pertumbuhan kredit bakal dilakukan secara lebih selektif dan terukur.
"Prioritas kami adalah memastikan setiap pertumbuhan kredit tetap didukung oleh kualitas aset yang baik, kemampuan pendanaan yang memadai, serta profil risiko yang sesuai dengan risk appetite bank," ujar Destya.
Hingga akhir tahun, Allo Bank tetap optimistis mampu mencatat pertumbuhan kredit positif. Namun, Destya menegaskan pihaknya tak hanya berfokus mengejar pertumbuhan kredit, melainkan menjaga keseimbangan antara ekspansi pembiayaan, penghimpunan dana, kualitas aset, dan profitabilitas agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
