Reporter: Ade Priyatin | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI mengungkapkan, dinamika geopolitik global, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah, sejauh ini belum berdampak signifikan terhadap portofolio pembiayaannya.
Direktur Utama PT SMI Reynaldi Hermansjah menegaskan, struktur pembiayaan perseroan relatif terlindungi dari tekanan eksternal, terutama fluktuasi nilai tukar, karena mayoritas proyek dibiayai dalam mata uang rupiah.
Baca Juga: OJK: 9 Fintech P2P Lending Belum Penuhi Ekuitas Minimum Rp 12,5 Miliar
Ia menyebut porsi pembiayaan rupiah pada proyek-proyek yang didanai PT SMI berkisar 75%–80%. Artinya, hanya sebagian kecil proyek yang menggunakan mata uang asing.
“Pengaruh fluktuasi mata uang asing kepada PT SMI secara keseluruhan tidak begitu terlihat dari portofolio proyeknya,” ujar Reynaldi dalam sesi media briefing, Selasa (3/3/2026).
Meski demikian, ia mengakui terdapat potensi kekhawatiran di sisi pemilik proyek, khususnya proyek yang masih dalam tahap konstruksi.
Beberapa proyek infrastruktur masih membutuhkan impor komponen seperti turbin, pipa, dan peralatan lainnya dari luar negeri.
Jika terjadi gangguan pada jalur logistik internasional terutama transportasi laut hal tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi proses pengadaan barang dan material.
Menurut Reynaldi, tekanan akibat gangguan geopolitik kemungkinan lebih dirasakan oleh pemilik proyek yang melakukan pengadaan material, dibandingkan PT SMI sebagai lembaga pembiayaan.
“Kalau proyek-proyek itu sendiri, dari sisi kami mungkin belum terlihat terlalu signifikan dampaknya,” katanya.
Baca Juga: FWD Insurance Perkuat Profesionalisme Agen untuk Meraih MDRT
Berdasarkan data portofolio pembiayaan unaudited per Desember 2025, PT SMI mencatat total pembiayaan sebesar Rp 94,469 triliun.
Dari jumlah tersebut, pembiayaan publik mencapai Rp 15,570 triliun, sementara pembiayaan korporasi sebesar Rp 78,899 triliun.
Perseroan memastikan akan terus memantau perkembangan global dan menjaga struktur pembiayaan agar tetap resilien di tengah ketidakpastian eksternal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













