Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah dinamika ekonomi yang semakin kompleks menantang, perbankan dituntut tetap adaptif dalam menjaga fungsi intermediasi. Salah satu bank dari kelompok Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) II yang terus memperkuat perannya adalah Bank Woori Saudara (BWS).
Bank dengan modal inti Rp 11 triliun tersebut terus berupaya menjaga keseimbangan antara penyaluran kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga di tengah tekanan eksternal.
Gejolak global yang dipicu oleh ketidakpastian ekonomi, fluktuasi suku bunga, serta tekanan nilai tukar menjadi tantangan tersendiri bagi industri perbankan. Dalam kondisi ini, kemampuan bank untuk tetap menyalurkan kredit secara selektif namun tetap agresif menjadi kunci dalam mempertahankan kinerja.
BWS merespons kondisi tersebut dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian serta memperluas portofolio kredit ke sektor-sektor yang dinilai resilien. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan menjaga kualitas aset, tetapi juga memastikan bahwa fungsi intermediasi tetap berjalan optimal.
Di sisi lain, penguatan dana murah menjadi fokus penting. BWS berupaya meningkatkan komposisi dana berbasis tabungan dan giro guna menekan biaya dana. Strategi ini dinilai efektif untuk menjaga margin di tengah persaingan likuiditas yang semakin ketat.
Menurut Aditya Prayoga, analis Phintraco Sekuritas, langkah BWS mencerminkan strategi yang adaptif terhadap kondisi pasar. Ia menilai, penguatan struktur pendanaan dan selektivitas pembiayaan menjadi kombinasi yang tepat untuk menjaga stabilitas kinerja bank.
Ia menyoroti, inovasi produk dan layanan yang tidak hanya fokus pada pricing suku bunga menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung penghimpunan dana. Dengan memanfaatkan inovasi dan kolaborasi, bank dapat menjangkau nasabah lebih luas serta meningkatkan efisiensi operasional.
Baca Juga: Bank Sampoerna Bukukan Aset Rp 18,2 Triliun paca 2025, DPK Capai Rp 13,44 Triliun
Strategi funding BWS juga berperan dalam meningkatkan pengalaman nasabah. Kemudahan akses layanan perbankan dinilai mampu mendorong loyalitas sekaligus menarik segmen nasabah baru, khususnya dari kalangan muda.
BWS turut memperkuat manajemen risiko guna mengantisipasi potensi peningkatan pembiayaan bermasalah. Dengan sistem pemantauan yang lebih ketat, bank dapat mendeteksi dini potensi risiko dan mengambil langkah mitigasi secara cepat.
Dalam konteks intermediasi, keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan kualitas aset menjadi faktor krusial. BWS berupaya menjaga keduanya agar tetap sejalan, sehingga ekspansi yang dilakukan tidak mengorbankan stabilitas jangka panjang.
“Saat ini penting untuk bank terutama untuk skala kecil menengah melakukan penguatan neraca dari sisi penghimpunan dana murah dan penyaluran kredit selektif agar kredit bermasalah NPL terjaga” kata Aditya, dalam keterangannya, Selasa (14/4).
Ke depan, tantangan eksternal diperkirakan masih akan membayangi. Namun, dengan strategi yang terukur dan adaptif, BWS dinilai memiliki ruang untuk tetap tumbuh dan memperkuat perannya sebagai lembaga intermediasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













