Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA) memutuskan tak membagikan dividen dari laba bersih tahun buku 2025. Keputusan tersebut disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 30 Juni 2026.
Dalam keterbukaan informasi yang dipublikasikan Kamis (2/7/2026), pemegang saham menyetujui penggunaan laba bersih bank sebesar Rp 9,47 miliar dengan rincian Rp 3 miliar dialokasikan sebagai cadangan untuk memenuhi ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas. Sementara sisa laba sebesar Rp 6,47 miliar dibukukan sebagai laba ditahan.
Dengan keputusan tersebut, Bank Bumi Arta tak membagikan dividen kepada pemegang saham untuk tahun buku 2025.
Baca Juga: Transaksi Digital BTN Capai 191 Juta Transaksi pada Juni 2026, Setara 60% dari Target
Selain itu, RUPS juga memutuskan untuk tak memberikan tantiem atau bonus kepada anggota dewan komisaris dan direksi atas kinerja tahun buku 2025.
Dana tantiem yang sebelumnya telah dicadangkan akan dikembalikan ke perseroan guna memperkuat struktur permodalan serta menjaga modal inti minimum sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam rapat yang sama, pemegang saham menyetujui perubahan anggaran dasar perseroan untuk menyesuaikan dengan ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Penerapan Tata Kelola bagi Bank Umum.
RUPS juga menyetujui Rencana Aksi Pemulihan (Recovery Plan) Perseroan yang telah diperbarui, termasuk penambahan opsi pemulihan pada aspek permodalan sebagai tindak lanjut ketentuan POJK Nomor 5 Tahun 2024 tentang Penetapan Status Pengawasan dan Penanganan Permasalahan Bank Umum.
Sementara itu, agenda perubahan susunan dewan komisaris belum menghasilkan keputusan. Setelah pembahasan dan pemungutan suara, usulan perubahan dewan komisaris tidak memperoleh persetujuan pemegang saham.
Karena itu, RUPS memutuskan menunda pembahasan dan pengangkatan dewan komisaris hingga rapat umum pemegang saham berikutnya.
RUPST Bank Bumi Arta dihadiri pemegang saham yang mewakili 3,12 miliar saham atau sekitar 92,03% dari seluruh saham dengan hak suara yang sah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














